BEM Solo Raya Gelar Unjuk Rasa, Tunjuk MBG dan Putri Cempo

Di sela-sela orasi, ketika klakson kendaraan-kendaraan yang melintas menyalak panjang—sebuah koor protes dari para pengguna jalan yang lelah—terasa ada semacam sihir yang menyatukan mereka semua. Jalan Adi Sucipto akhirnya ditutup, bukan oleh keinginan mahasiswa, melainkan oleh ketakutan penguasa akan kerumunan yang mulai memadat seperti awan hitam sebelum hujan badai.

Oleh Rulfo
12 Juni 2026, 23:06 WIB

Rambak.co, Surakarta Di bawah langit Surakarta yang menggantung berat seperti tumpukan logam tua, Jumat sore itu—tanggal 12 Juni 2026—waktu seolah berhenti berdetak di Jalan Adi Sucipto. Matahari, yang membakar tanpa ampun seolah ingin menghapus jejak sejarah di aspal, tidak mampu meredupkan nyala kemarahan yang dibawa oleh barisan mahasiswa dari Aliansi BEM Solo Raya.

Mereka datang bukan sebagai gerombolan yang tersesat, melainkan sebagai ingatan kolektif yang menolak untuk dilupakan. Di barisan depan, sebuah mobil komando membelah kesunyian kota, suaranya menderu seperti napas naga yang lapar, memimpin langkah ratusan kaki yang ritmenya seirama dengan detak jantung keresahan bangsa.

Spanduk-spanduk yang dibentangkan bukanlah sekadar kain; itu adalah monumen satir yang ditulis dengan tinta keputusasaan. “Reformasi Dikebiri,” teriak tulisan di atas kain lusuh itu, seolah menggema dari ruang-ruang gelap sejarah yang sengaja dikunci rapat. Mereka membawa pertanyaan-pertanyaan yang mengapung di udara, tentang nasib TPA Putri Cempo yang menumpuk sisa peradaban, hingga tentang nasib rupiah yang merosot jatuh ke dalam jurang ketidakpastian.

Arif Ainurjaya, seorang pemuda yang matanya menyiratkan keseriusan seorang pengkhotbah di tengah badai, berdiri di sana. Dengan suara yang mencoba mengalahkan bising dunia, ia menunjuk ke arah Jakarta, ke arah istana di mana angka-angka dalam anggaran negara menari-nari di atas penderitaan rakyat. Ia menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG), menyebutnya bukan sebagai kasih sayang, melainkan penguras kantong bangsa yang sudah bolong. Baginya, dan bagi mereka yang berdiri di belakangnya, rapat-rapat efisiensi di pusat hanyalah teater bayangan yang dipertontonkan untuk menidurkan kewaspadaan rakyat.

Di sela-sela orasi, ketika klakson kendaraan-kendaraan yang melintas menyalak panjang—sebuah koor protes dari para pengguna jalan yang lelah—terasa ada semacam sihir yang menyatukan mereka semua. Jalan Adi Sucipto akhirnya ditutup, bukan oleh keinginan mahasiswa, melainkan oleh ketakutan penguasa akan kerumunan yang mulai memadat seperti awan hitam sebelum hujan badai.

Polisi berjaga dengan wajah-wajah yang datar, seolah mereka tidak sedang melihat sebuah babak baru dari buku sejarah yang sedang ditulis. Di depan gerbang DPRD Kota Solo, gedung yang bisu itu menyaksikan bagaimana masa depan mencoba menuntut pertanggungjawaban dari masa kini.

Ketika sore mulai melarut menjadi senja yang keunguan, aksi itu berakhir bukan dengan jawaban yang manis, melainkan dengan janji yang tajam. Para mahasiswa itu pergi, namun mereka meninggalkan sesuatu yang tertinggal di aspal: kesadaran bahwa ketika kebijakan menjauh dari kepentingan rakyat, maka rakyat akan selalu menemukan jalan untuk pulang ke jalanan, membakar kesunyian, dan menuntut apa yang seharusnya menjadi milik mereka.

Artikel Terkait