Cerpen Bersambung: Sabda Bumi Nusantara
Presiden Satrio melangkah ke depan mimbar. Langkah kakinya berat, berwibawa, mencerminkan watak seorang lelaki yang tumbuh dari tanah berdebu, bukan dari karpet merah akademis Barat. Ketika ia mendongak, tatapan matanya menyapu seluruh ruangan dengan dingin. Keheningan mendadak jatuh, mencekam dan mutlak. Bahkan desis mikrofon pun terdengar seolah mengancam.
22 Mei 2026

