Yusuf Bilyarta Mangunwijaya (6 Mei 1929 – 10 Februari 1999), atau lebih dikenal sebagai Romo Mangun, adalah sosok langka dalam sejarah Indonesia: seorang imam Katolik yang melampaui sekat agama, seorang arsitek yang menolak kemewahan, dan seorang intelektual yang memilih berdiri di sisi wong cilik ketika kekuasaan sibuk mengurus dirinya sendiri.
Ia lahir sebagai anak sulung dari dua belas bersaudara pasangan Yulianus Sumadi dan Serafin Kamdaniyah. Ayahnya adalah mantan Ketua DPRD Magelang pada masa Hindia Belanda—latar keluarga yang relatif mapan, namun tidak membuat Romo Mangun tumbuh menjadi elit yang berjarak dari rakyat. Justru sebaliknya, kesadarannya tentang ketidakadilan sosial tumbuh sejak dini dan terus mengeras sepanjang hidupnya.
Dari Revolusi ke Refleksi
Masa muda Romo Mangun dibentuk oleh Revolusi Fisik 1945–1950. Ia bergabung sebagai prajurit Tentara Keamanan Rakyat (TKR), lalu Tentara Pelajar, dan terlibat langsung dalam pertempuran di Ambarawa, Magelang, hingga Mranggen. Pengalaman perang ini bukan romantika heroisme, melainkan trauma kemanusiaan.
Salah satu momen paling menentukan dalam hidupnya adalah pidato Mayor Isman yang menolak glorifikasi pahlawan. Kalimat itu—bahwa pahlawan sejati adalah rakyat yang teraniaya—menjadi fondasi etika Romo Mangun sepanjang hayat. Dari titik itu, perjuangan baginya bukan lagi soal senjata, tetapi martabat manusia.
Iman, Ilmu, dan Keberpihakan
Romo Mangun menempuh jalan imamat Katolik, namun tidak pernah menjadikan agama sebagai menara gading. Ia belajar filsafat dan teologi, lalu arsitektur di ITB dan RWTH Aachen, Jerman. Baginya, iman harus membumi, dan ilmu harus memihak.
Sebagai akademisi, ia mengajar di UGM selama lebih dari satu dekade. Sebagai sastrawan, ia menulis novel-novel besar seperti Burung-Burung Manyar dan Roro Mendut, yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga tajam secara historis dan politis. Sastra, bagi Romo Mangun, adalah cara lain untuk melawan lupa dan ketidakadilan.
Arsitektur untuk Manusia, Bukan Kekuasaan
Nama Romo Mangun abadi dalam sejarah arsitektur Indonesia bukan karena gedung megah, melainkan karena permukiman warga tepi Kali Code. Ketika negara melihat kawasan kumuh sebagai masalah yang harus digusur, Romo Mangun melihatnya sebagai ruang hidup yang harus dimanusiakan.
Ia mendampingi warga, merancang rumah dengan dana pribadi, membangun masjid di kawasan binaan Katolik, dan mengajarkan hal-hal sederhana: tidak membuang makanan, menjaga kebersihan, dan mempertahankan harga diri. Baginya, orang miskin tidak butuh dikasihani, tetapi diakui sebagai manusia utuh.
Pendekatan ini membuatnya bersitegang dengan pemerintah, bahkan sampai melakukan mogok makan. Ia dicemooh, dilabeli “ular”, namun tetap berdiri. Penghargaan internasional seperti Aga Khan Award datang belakangan—bukan sebagai tujuan, tetapi sebagai konsekuensi.
Romo Mangun dan Indonesia Hari Ini
Di tengah Indonesia hari ini—ketika pembangunan sering diukur dari beton dan angka pertumbuhan—pemikiran Romo Mangun terasa semakin relevan. Ia mengingatkan bahwa pembangunan tanpa keadilan sosial adalah kekerasan yang dilembagakan. Bahwa pendidikan bukan sekadar kurikulum, melainkan proses memerdekakan manusia.
Model pendidikan yang ia gagas melalui SD Eksperimental Mangunan dan Dinamika Edukasi Dasar menantang sistem yang terlalu seragam dan elitis. Dalam konteks krisis pendidikan, ketimpangan sosial, dan konflik agraria hari ini, suara Romo Mangun seakan berbisik: negara boleh kuat, tapi harus adil; iman boleh tinggi, tapi harus membumi.
Penutup
Romo Mangun wafat pada 10 Februari 1999, namun warisannya tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup dalam pertanyaan-pertanyaan yang belum selesai dijawab negara ini: tentang keadilan, kemanusiaan, dan keberpihakan.
Di zaman ketika aktivisme mudah menjadi slogan, Romo Mangun memberi teladan sunyi: berpihak tanpa pamrih, melawan tanpa kebencian, dan percaya bahwa harga diri manusia adalah fondasi segala peradaban.
