Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku/ Menghadapi kemerdekaan tanpa cinta//. Dua larik itu adalah bagian awal dari puisi berjudul “Kangen” gubahan W. S. Rendra. Dulu, apakah saat menuliskan kata demi kata itu, W. S. Rendra terbayangi kesedihan yang tiada terkira terhadap sesuatu hal? Dan ia kemudian benar-benar meletakkan kata “kesepian” sebagai kumpulan gejolak yang membuat pening kepala.
S. Rendra tidak hidup di era kini, saat melesatnya teknologi digital dengan makin menyergapnya serbuan kapitalisme. Namun, bagiku sumbangsih kata “kesepian” dalam puisinya masih awet dan meruyakkan gejala yang berarti pada manusia abad XXI. Kesepian kini menjadi ketakutan kolektif yang melahirkan derita dan sedih bagi tak sedikit orang.
Harian Kompas edisi 31 Juli 2025 mengeluarkan tajuk berjudul “Bahaya Kesepian”. Kita mendapat penjelasan atas investigasi yang dilakukan Kompas bahwa 19,97 persen atau satu dari lima orang Indonesia mengaku merasa kesepian setidaknya sepekan sekali. Data itu menegaskan akan prevalensi kesepian di Indonesia yang melebihi rata-rata global. Sementara laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berdasarkan data 2014-2023, menyebut prevalensi kesepian rata-rata di Asia Tenggara mencapai 18,3 persen dan tingkat global sekitar 16%.
Anda dapat menemukan keterangan dalam tajuk tersebut begini: “Banyak yang tidak menyadari bahwa kesepian pada manusia merupakan persoalan yang sangat serius. Padahal, tanpa penanganan serius, kesepian tidak hanya memicu gangguan mental, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit fisik pada manusia, seperti jantung, stroke, hipertensi, dan diabetes tipe 2. Tidak hanya itu, kesepian dapat menurunkan produktivitas hingga memunculkan pikiran untuk mengakhiri hidup.”
Betapa mengerikannya saat kita membaca keterangan itu, yang tak mungkin ada ruang untuk menyatakan lelucon. Dulu kita diajarkan sepi itu hal yang bagus dan mulia, sebagaimana pepatah dalam bahasa Jawa, “sepi ing pamrih, rame ing gawe”—yang kira-kira maknanya adalah melakukan sesuatu pekerjaan dan sejenisnya dengan penuh semangat tanpa berharap atau pamrih. Sederhananya ikhlas.
Jika Anda seorang bos terus mengatakan itu pada bawahan Anda, jangan kaget kalau Anda kemudian diajak berkelahi. Namanya bekerja, ya yang dicari adalah gaji ataupun upah, to, bos. Anda kok pengin enaknya saja, sedangkan saat buka lowongan pekerjaan menyaratkan banyak hal: mampu bekerja di bawah tekanan, berpenampilan menarik, hingga pembatasan umur. Pasti Anda kurang sreg saat banyak bawahan Anda menmutar lagu-lagu Hindia dan .Feast?
Aku tahu, telingamu akan merasakan gangguan saat lagu “Secukupnya” (2019) diputar di kantor. Oh, apalagi dalam lirik-lirik yang harusnya diteriakkan serikat buruh saat melakukan demonstrasi.
Beberapa liriknya begini: Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur tenang?/ Tak perlu memikirkan tentang apa yang akan datang/ Di esok hari/ Tubuh yang berpatah hati/ Bergantung pada gaji/ Berlomba jadi asri/ Mengais validasi//.
Sejak mendapati fase kerap mendengarkan lagu-lagu Hindia dan .Feast, aku kerap menemukan percakapan di kolom komentar dalam banyak platform media sosial. Lagu-lagu mereka banyak yang menganggap sebagai sarana penyembuhan (healing) atas gejolak dan tekanan dalam rutinitas keseharian. Katanya, tak perlu psikolog, cukup mendengarkan lagu-lagu Hindia dan .Feast saja. Apa benar?
Jangan berdebat dulu antara lagu dengan profesi psikolog, sebab itu dapat memancing Anda untuk mencurigai akan mengapa dalam beberapa tahun terakhir, buku-buku genre self improvement dan motivasi sangat laris. Jangan berdebat itu ya, dik, ya, sebab Anda bisa stres sendiri! Lebih baik mari kita mencurigai bagaimana fenomena-fenomena di atas begitu merembet di kalangan urban. Di kota-kota besar, Anda tahu kesepian bisa jadi telah menjadi epidemi. Kita semua di dalam jejaring urban sangat rentan menghadapi kesepian.
Barangkali benar, satu hal mendasar yang bisa dijadikan tolok ukur adalah fakta beban ganda kita itu sebagai warga dunia. Dunia nyata dan dunia digital. Ada lajur yang terkadang membelok, curam, bahkan menyesatkan dalam peralihan itu. Agaknya kita belum memiliki mekanisme pertahanan yang valid dan rasional dalam mengatasi gejolak yang kompleks. Anda tahu, gejolak itu meliputi jebakan tren, ilusi superoritas, wabah narsisisme, pengemis validasi, dan wisata kesombongan.
Sedangkan di dunia nyata, Anda mungkin sudah begitu banyak pekerjaan yang sampai-sampai tak menyisakan waktu untuk bercengkerama pada kawan, sahabat, maupun sanak famili. Anda mungkin terlalu lelah menjalani rutinitas kerja, atau yang lebih ekstrem mencari pekerjaan itu sendiri, untuk tidak mengatakan sedang menunggu 19 juta lapangan kerja. Ingat ya dik, ya, bisa jadi itu ditambah beban untuk memikirkan cicilan, realitas kemiskinan ekstrem, membaca berita tentang kondisi negeri yang menambah derajat kepusingan, hingga mungkin Anda kepikiran pula akan Generasi Indonesia Emas 2045.
Mungkin ini seturut ungkapan biarawati Inggris Karen Armstrong dalam buku yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Yuliani Liputo dengan berjudul Sacred Nature: Bagaimana Memulihkan Keakraban dengan Alam (Mizan, 2023). Secara mendalam memang Armstrong mengetengahkan bagaimana upaya yang bisa dilakukan manusia untuk menjalin hubungan terhadap alam di era modern ini. Namun, di awal ia membabarkan akan gejolak manusia dalam arus revolusi digital.
Armstrong menulis: “Kita berjalan di tempat yang sangat indah sambil bercakap-cakap di ponsel atau scrolling media sosial: kita hadir, tapi pada dasarnya juga absen. Alih-alih duduk merenung di tepi sungai atau memandang dengan kagum bentangan alam pegunungan, kita terobsesi untuk mengambil foto pemandangan demi pemandangan. Bukannya membiarkan pemandangan itu menemukan tempat yang intim di dalam pikiran dan hati kita, kita menjarakkan diri kita darinya. Alam menjadi realitas yang disimulasikan.”
Oh, aku malah ingat esai apik garapan Qaris Tajudin di rubrik “Marginalia” Majalah Tempo edisi 27 Agustus 2023. Esainya berjudul “Wabah Kesepian”, lahir atas perjalanannya ketika ia ke Lembah Natrun, Mesir. Ia bertemu seorang rohaniwan Kristen Koptik yang melanjutkan tradisi “menyepi”. Qaris mengalami gejolak bahasa: “Saya tidak bisa membedakan kesepian (loneliness) dan kesendirian (solitude). Dalam bahasa Indonesia, kesepian dan dan menyepi punya arti yang berbeda, meski keduanya dibentuk dari kata asal yang sama.”
Di Lembah Natrun, menyepi adalah tindakan terkait spiritualitas. Di dekat sana ada tempat untuk memanen garam. Konon, kata natrium berasal dari nama lembah tersebut. Kita mendapati definisi kesepian dari Qaris atas ilusi dari dunia digital. Terangnya: “Tapi ternyata ada rasa suwung yang muncul karena tak ada kebersamaan yang nyata.” Kini kita berpikir akan ancaman kesepian. Bukankah memaknai kebersamaan antar-manusia itu yang diperlukan? Sebab, menuruti tren, narsisisme, dan validasi serta mengejar superioritas itu melelahkan, dik.
