Kota dan Memori

Di bawah bayang ketakutan itu, saya terus melaju. Pepohonan rimbun di pinggir jalan bergoyang terkena angin, sawah terhampar, dan ladang yang luas menemani saya. Sesekali, saya masih berpapasan dengan pengguna kendaraan lain dan beberapa sudut terdapat warga yang berkumpul.

Oleh Joko Priyono
7 Februari 2026, 17:50 WIB

Sebelum 31 Januari 2026, saya belum pernah menapakkan sepatu di sebuah kabupaten bernama Bojonegoro, Jawa Timur. Kalau tak ada kesempatan gegara dimintai mengisi materi dalam forum pelatihan, mungkin saya belum mendapati momentum itu. Meski begitu, di Jawa Timur, sejak lama saya memiliki keinginan berkunjung ke Banyuwangi, tepatnya di Kecamatan Glenmore. Tak ada pikiran khusus, namun saya terperanjat dan merasa penasaran saat mendengar nama daerah itu untuk pertama kalinya. Nama itu menarik dan dalam alam bawah sadar saya terasa ada sebuah panggilan untuk merencanakan kunjungan.

Sebelum ke Bojonegoro, saya hanya memiliki ingatan pada dua hal, yakni Kiai Anwar Zahid dan Syamsul Arif. Kiai Anwar Zahid, seorang pendakwah kondang kelahiran Kanor, Bojonegoro yang terkenal dengan cara berbahasanya saat menyampaikan ceramah. Saya belum pernah bertemu atau ikut pengajiannya secara langsung, namun salah satu rekaman ceramahnya yang kalau tak salah disampaikan saat malam tirakatan Agustus yang bertepatan dengan bulan Ramadan, menjadi ceramah yang membuat banyak orang terkesan. Ceramah itu terjadi pada bulan Agustus tahun 2010 di Desa Kanorejo, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Para pendengar tentu mudah menemukan tawa saat Kiai Anwar Zahid menceritakan pengalamannya mengisi ceramah di salah satu wilayah yang ada di Jawa Tengah. Pengalaman itu saat masuk tarawih, ia diminta menjadi imam. Akan tetapi, ia menolak dan mempersilakan imam yang biasa bertugas. Dalam pelaksanaannya, imam tersebut membaca surat panjang, sampai ada peristiwa lupa ayat saat pelaksanaan salat. Para jemaah yang terdiri dari kiai dan orang tua tak ada yang bisa membantu imam, sebab potongan ayat yang imam lupa ketika itu adalah ayat yang bersifat umum. Hal yang mengejutkan datang, saat ada anak kecil di barisan belakang menceletuk, “qulhu ae lek, kesuwen…”. Yang dimaksudkan adalah untuk membaca surat Al-Ikhlas saja.

Kedua, Syamsul Arif. Saya mengerti ia tak lepas dari kegemaran menonton sepak bola lewat tayangan di televisi semasa sekolah menengah. Syamsul Arif adalah seorang pemain sepak bola yang juga kelahiran Bojonegoro. Kariernya bermula di klub Persibo Bojonegoro. Saya ingat ia termasuk bagian dari skuat Persibo saat klub itu menjuarai Liga Divisi Utama tahun 2010. Setelah itu, ia kemudian pindah ke Persela Lamongan dan beberapa nama klub lain. Meski demikian, dalam memori saya, mengingat Syamsul Arif adalah mengingat Bojonegoro sebagai tempat lahirnya.

Barangkali itu cara kita menggambarkan sebuah kota. Kita mungkin sebelumnya tak pernah sekalipun mengunjunginya, namun kita telah punya ingatan demi ingatan dari kota tersebut. Itu dapat terhubung dengan pengisahan yang ada di dalam teks, sepak bola, wisata, kebudayaan, hingga corak masyarakatnya. Artinya, kita bisa mendapati gambaran kota dengan presisi, meski selalu ada hal yang baru saat pada akhirnya mengunjungi sebuah kota. Ketika saya ke Bojonegoro, mulanya saya gagal mengajak kawan untuk menemani perjalanan menggunakan sepeda motor tersebut. Padahal saya sudah menyiapkan anggaran untuk menanggung makan, minum, hingga rokoknya ketika kawan saya menyanggupi.

Kelihatannya banyak kawan saya akhir-akhir ini sering sibuk di waktu akhir pekan. Dugaan saya hanya satu: mereka telah berpacaran dan menemui pacarnya saban malam Minggu. Saya pun akhirnya hanya ditemani kesendirian saya. Berangkat dari Solo pukul 14.30 WIB. Di belakang kampus Universitas Sebelas Maret, hujan turun. Saya lekas menggunakan jas hujan. Hujan itu berlangsung sampai perbatasan antara Kabupaten Karanganyar dengan Kabupaten Sragen. Mulanya saya takut kalau sepanjang perjalanan akan hujan. Semenjak kedua mata saya mengalami gangguan minus, saat berkendara di situasi hujan dan malam hari, pandangan saya lemah dan itu yang membentuk saya malas berkendara dalam jarak jauh.

Dari Sragen kemudian saya masuk ke Kecamatan Mantingan, Ngawi. Wilayah yang secara administratif merupakan bagian dari Jawa Timur. Saya meniatkan diri untuk berhenti di warung makan. Selama satu jam, dari pukul 16.00–17.00 WIB saya menghabiskan waktu di sana. Saya menyengaja berhenti agak lama untuk tak tergesa dalam perjalanan. Saya mengabari pihak panitia. Saya juga mengabari teman saya, Fiqi yang bermukim di Ngawi bagian kota. Sebelumnya saya telah berkomunikasi dengannya untuk mampir di tempatnya. Rencana awal saya adalah menggunakan sepeda motor hanya sampai ke Ngawi. Dari Ngawi ke Bojonegoro saya akan naik bus.

Fiqi mengajak saya bertemu di Ngawi bagian kota. Pukul 18.10 WIB saya sampai di warung makan, tempat ia bersama teman-temannya menyambut kedatangan saya. Saya diajak makan, namun saya menolaknya karena satu jam sebelumnya sudah makan. Saya hanya memilih untuk menikmati secangkir kopi. Saya menanyakan kabar Fiqi, yang dulu di tahun 2019 kami sekontrakan saat sama-sama masih menjadi mahasiswa di UNS. Kami bernostalgia di Kota Solo, sampai pada ingatan nahas saat pada suatu magrib—saya, ia, dan satu kawan lain kehilangan masing-masing laptop yang kami miliki. Laptop itu dicuri oleh maling dengan membobol pintu kontrakan. Kami sedih, sebab masing-masing dari kami juga kehilangan banyak data tak terkecuali berhubungan dengan skripsi.

Peristiwa itu membuat Fiqi kemudian mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan kuliah. Ia kemudian balik ke tempat asalnya dan memilih bekerja. Fiqi adalah kawan yang semasa aktif di organisasi yang saat itu saya ketuai. Ia menjabat sebagai pengurus bidang media. Desainnya sangat bagus dan pada zamannya disoroti oleh banyak orang. Itu mungkin yang mewajarkannya dulu ia kuliah di jurusan Informatika. Nostalgia dan cerita kabar beberapa teman kami berlangsung sampai pukul 20.00 WIB. Di sana saya telah menceritakan padanya bahwa perjalanan ke Bojonegoro akan saya langsungkan dengan bersepeda motor. Saya menaruh janji, sepulang dari Bojonegoro akan mampir ke rumahnya di Kecamatan Geneng, Ngawi.

Ia mengantarkan ke tempat parkir sembari saya menanyakan arah jalan yang akan saya tempuh. Ia menunjukkan. Sebelum menyalakan motor, saya bertanya, “Lho, kalau rumahnya Denny Caknan itu di mana, Fiq?”. Ia menjawab bahwa perjalanan saya ke Bojonegoro akan melewatinya. Dan benar, saya sempat menengok ke kiri jalan, melihat rumah yang sering dijadikan konten dalam platform media sosial dengan sebutan “Pusat COD Ngawi”. Berangkat dari Ngawi pukul 20.00 WIB membuat saya telah mendapati malam di perjalanan itu. Hal tersebut senada dengan keterangan Fiqi, bahwa dalam perjalanan, saya akan melewati jalan raya yang berada di kawasan hutan, bernama Watu Jago.

Di bawah bayang ketakutan itu, saya terus melaju. Pepohonan rimbun di pinggir jalan bergoyang terkena angin, sawah terhampar, dan ladang yang luas menemani saya. Sesekali, saya masih berpapasan dengan pengguna kendaraan lain dan beberapa sudut terdapat warga yang berkumpul. Saya sampai di lokasi acara yang berada di Kecamatan Tambakrejo tepat pukul 21.30 WIB. Disambut panitia dengan rasa syukur akhirnya sampai. Secangkir kopi khas Jawa Timur dengan menggunakan cangkir kecil disuguhkan. Kami berbincang pada banyak hal sebelum akhirnya saya diminta bersiap diri untuk masuk forum.

Malam yang makin sunyi, forum berakhir. Saya mengalami kelelahan dan diminta panitia untuk beristirahat di penginapan yang berada di samping rumah warga. Saya mulanya kaget, di sekitar lokasi yang merupakan kantor dari lembaga Ademos itu banyak penginapan, semacam kamar yang terdiri dari dipan bertingkat lengkap dengan kamar mandi banyak didapati di sekian rumah warga. Rupanya itu bentuk pemberdayaan masyarakat dari keberadaan lembaga yang tidak lepas dari Pratikno, sosok yang saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Ia adalah putra daerah Bojonegoro, kelahiran di Kecamatan Padangan, dekat dari lokasi itu. Di lembaga itu saat ini ia sebagai dewan pengawas.

Pada Minggu sore, 1 Februari 2026, saya baru benar-benar bisa hidup kembali. Saya membersihkan badan kemudian menuju ke lokasi acara untuk bertemu kembali para panitia. Mereka telah menyiapkan makan dan kopi. Saya menikmatinya kemudian disambung bercakap pada hal-ihwal terkait Bojonegoro. Bahrul Hikam, Ketua PC PMII Bojonegoro menemani saya bersama beberapa pengurusnya. Saya sebenarnya masih punya rencana untuk meneruskan perjalanan selama di Bojonegoro, termasuk janji bertemu A. Wahyu Rizkiawan, penulis produktif yang meminati sejarah, keislaman, dan kebudayaan. Akan tetapi gagal, sebab saya harus lekas bergerak kembali ke Solo.

Dalam obrolan seusai makan itu saya mendapatkan banyak penjelasan mengenai Bojonegoro dari sisi pinggiran, namun penting. Itu tak lepas bahwa acapkali sebuah kota itu digambarkan akan sisi kemegahan dengan segenap infrastrukturnya. Hal itu pernah dikritik oleh Antropolog Prancis Marc Augé (1992) dalam bukunya yang berjudul Non-Places: Introduction to an Anthropology of Supermodernity. Saya baru tahu tokoh itu pada 2025 lalu setelah menemukan esai berjudul “Ketika Warga Berhenti Menyusuri Kota” garapan A. Bagus Laksana di Majalah Basis No. 07–08 Tahun 2015.

Bagus Laksana menjelaskan gagasan Augé dalam esainya. Place itu sebuah ruang fisik yang telah menjadi wahana hidup karena keterhubungan dengan identitas dan sejarah (memori) dari para penduduknya sebagai komunitas. Sementara non-place adalah sebuah ruang fisik yang sekadar tempat yang tidak mempunyai hubungan organik dengan penghuni dan komunitasnya. Teori dari Augé tak lain adalah kritik terhadap orang yang cenderung memaknai kota pada non-place. Di sebuah kota, mereka lebih menghabiskan waktu di tempat macam mal, bandara, hotel, hingga jalan tol. Mereka makin kehilangan makna dari sebuah kota, place, sebagai wahana hidup yang menunjukkan identitas maupun memori.

Kritik serupa bila kita mendedah dalam kesusastraan Indonesia, misalnya, akan mengingatkan sosok bernama Ahmad Tohari. Penulis kelahiran Banyumas, Jawa Tengah itu memosisikan kota dalam banyak karyanya baik cerita pendek maupun novel sebagai kritik atas realitas kota dari sudut pandang di luar kemegahan yang menopang pertumbuhan kota. Ia menghadirkan realitas yang sejatinya melekat dalam kota itu, macam kemiskinan yang berbiak di sudut stasiun, kriminalitas yang ada di pasar, hingga nasib buruk pengemis dan pengamen di terminal, bus, maupun angkutan kota. Ahmad Tohari melakukan itu tentu sebagai pembelaannya untuk komunitas masyarakat yang tertindas di tengah banalitas dalam perkotaan.

Satu per satu dari kawan mengobrol saya pada sore itu tentang banyak hal Bojonegoro. Saya baru sadar dan tahu, dari cerita mereka bahwa beberapa makam keluarga dari Tirto Adhi Soerjo terletak di Bojonegoro. Tirto, yang dalam novel garapan Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia disebut dengan Minke memang lahir di Cepu, Blora, Jawa Tengah. Meski berbeda provinsi, secara jarak Blora dan Bojonegoro berdampingan. Pengisahan Tirto dalam konteks Bojonegoro mengingatkan saya ketika menonton film Bumi Manusia (2019) hasil adaptasi novel Pram yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Kalau tidak salah terdapat adegan keberangkatan Minke dari Stasiun Bojonegoro.

Percakapan itu kemudian mengantarkan kami membincang pergerakan rakyat di awal abad XX. Untuk menempatkan Solo dengan keberadaan Sarekat Islam, saya mengajukan buku penting garapan Takashi Shiraishi yang berjudul Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912–1926. Buku yang dalam terjemahan bahasa Indonesia itu pernah diterbitkan oleh Grafiti Press pada tahun 1997. Pada tahun 2023, Marjin Kiri turut melakukan penerbitan ulang. Saya mengajukan keberadaan Samanhudi dan Haji Misbach, sebelum kemudian menemukan irisannya pada keberadaan Tirto Adhi Soerjo.

Di sore yang mendung dan makin menuju tenggelamnya matahari, saya masih mendapati percakapan panjang. Bagi saya, kelak hal itu akan menambah memori terkait Bojonegoro. Saya mulanya mengimajinasikan Bojonegoro sebatas pada dua nama: Kiai Anwar Zahid dan Syamsul Arif, kemudian menambah daftar dari serangkaian percakapan tersebut. Tepat pukul 16.30 WIB, saya pamit untuk melanjutkan perjalanan kembali menuju Solo. Perjalanan yang begitu melelahkan, namun terasa tidak berarti dengan besarnya pengalaman, kekayaan cerita, dan memori yang saya dapatkan setelah untuk pertama kalinya akhirnya bisa mengunjungi sebuah tempat bernama Bojonegoro.

 

Artikel Terkait