Kota dan Obsesi Viral

Oleh Joko Priyono
6 Desember 2025, 10:02 WIB

Di Stasiun Rangkasbitung, Lebak, Banten kita sebelumnya tak pernah memikirkan bagaimana tumbler dapat menghebohkan jagat Indonesia. Ya, Mbak Anita mendapati kehilangan tumbler setelah peristiwa tertinggalnya tas berinsulasi di dalam gerbong kereta. Ia melakukan perjalanan dari Jakarta yang bagiku dalam kondisi begitu melelahkan. Namun, mulanya Anda perlu paham bahwa betapa tidak mudahnya di dalam mendefinisikan kehilangan.

Barangkali hal itu yang dirasakan Mbak Anita. Itu mungkin karena ia masih sadar hidup di Indonesia, bukan di negara macam Jepang yang saat barang tertinggal di ruang publik, sangat mudah untuk ditemukan kembali. Mbak Anita kukira dibayangi sebuah perasaan yang begitu mencemaskan. Ketika barang tertinggal, menurutnya berkemungkinan sulit untuk ditemukan.

Sebagai langkah untuk mengupayakan barang yang tertinggal itu kembali, kita tahu ia telah melakukan mekanisme yang pada awalnya tepat: menghubungi pihak stasiun, yang secara jangkauan memudahkannya untuk mengecek. Namun, yang kemudian menjadi soal adalah urusan komunikasi. Ada tata bahasa yang membutuhkan tafsir yang perlu waktu lebih, namun tak berjalan. Bersamaan dengan itu, gangguan tata bahasa tersebut diselimuti cemas dan curiga, yang akhirnya membuncah pada situasi naik pitam.

Dalam ketegangan itu, media sosial kemudian menjadi ruang untuk melampiaskan kekesalan yang lahir dari miskomunikasi itu. Perkaranya sebenarnya sepele dan mudah diatasi, namun kemudian menjadi runyam. Ini betapa menyiratkannya dalam klaim kecepatan teknologi yang terjadi, kita agaknya sulit untuk melakukan penundaan, memberikan jeda, atau mempersilakan spasi untuk mengisi keterhubungan pada hal-hal yang sedang terjadi.

Fenomena yang terjadi kiranya sedikit memberi gambaran akan realitas urban. Kota dengan segala pertaruhan dari warganya—tekanan, dinamika, dan kompetisi memungkinkan tak ada ruang untuk bercakap panjang demi misi keterselesaian. Kota agaknya terus menuntut cepat, terhadap apa saja. Kehidupan yang harus mengikuti ritme jam mekanik yang dibuat industri dan pihak pemodal. Pada waktu yang terus berjalan, kita tak pernah terlatih untuk menyia-nyiakan waktu.

Yang menarik tentu saja kemudian adalah keterhubungannya pada dunia virtual, media sosial. Pada segala hal yang berhubungan dengan sebuah kepentingan, baik individu maupun kelompok, media sosial telah menjadi wahana perjuangan untuk mendapatkan hak. Anda tahu warganet membangun koneksi yang memunculkan tagar bahasa macam #PercumaLaporPolisi dan #NoViralNoJustice sebagai bentuk kritik lambannya negara atas persoalan penting dan mendesak yang menuntut keadilan hukum.

Namun, rupanya kita juga perlu menaruh skeptisisme akan fakta bahwa di luar tagar yang menjadi bahasa umum dalam dunia virtual itu, mengapa terkadang orang hanya menginginkan keramaian akan wacana yang dilemparkan? Gejala ini kukira sangat erat dengan obsesi viral. Hanya bermodal keyakinan “yang penting viral dulu”. Keyakinan itu menjadi mantra bahwa urusan blunder, merugikan orang lain, dan keharusan klarifikasi adalah kesekian.

Artikel Terkait