Rambak.co, Surakarta — Langit Surakarta pagi itu tampak berbalut mendung, seolah turut berduka. Di bawah bayangan awan kelabu, ribuan warga berjejer di sepanjang jalan, menyambut kepergian Raja Pakubuwana XIII. Suara gamelan mengalun pelan dari kejauhan, mengiringi langkah terakhir sang raja menuju peristirahatan abadi di Imogiri, Bantul, Yogyakarta.
Dari dalam tembok keraton, arak-arakan mulai bergerak. Di depan, para pengawal berseragam lurik berjalan tegap. Senar drum ditabuh perlahan, selaras dengan derap kaki yang menapak bumi. Sebilah pedang tersandang di bahu, seakan menjadi simbol kesetiaan yang tak putus, bahkan ketika tuannya telah berpulang.
Ratusan abdi dalem berjalan kaki, sebagian menunduk khidmat, sebagian lagi menitikkan air mata. Tiga kilometer jarak yang mereka tempuh, dari Kasunanan Surakarta hingga Loji Gandrung. Langkah-langkah itu bukan sekadar perjalanan, melainkan ritual panjang melepas sosok yang selama dua dekade lebih menjadi payung bagi rakyatnya.

Di pinggir jalan, pelajar berseragam berdiri rapi. Mereka melambaikan tangan, menyapa tanpa suara. Seorang ibu memeluk anaknya erat, berbisik pelan, “Itu rajamu, Nak, yang menjaga kota ini.” Dari bibir warga, doa-doa melayang—merambat lembut di udara yang basah oleh duka.
Tepat pukul sembilan pagi, arak-arakan melewati Jl. Veteran, Tj. Anom, Yos Sudarso, dan berakhir di Jl. Slamet Riyadi. Loji Gandrung, kediaman Wali Kota Surakarta, menjadi tempat singgah terakhir di kota ini. Ribuan warga memadati halaman, menanti kedatangan jenazah sang raja. Di sana, bunga melati ditabur, aroma dupa tercium di udara, dan denting gamelan berhenti di nada yang panjang.

Beberapa jam kemudian, iring-iringan mobil dan bus yang membawa keluarga, abdi dalem, serta para pelayat bergerak menuju Imogiri. Di situlah, di antara batu-batu tua dan pohon sawo kecik yang teduh, Raja Pakubuwana XIII akan bersemayam bersama para leluhurnya.
Surakarta pun kembali sunyi. Namun di hati warganya, gema langkah sang raja masih terasa—meninggalkan jejak yang tak mudah pudar.
