Rambak.co, Surakarta — Gunungan sampah dan antrean truk pengangkut yang mengular panjang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Mojosongo, menjadi sorotan tajam publik. Masalah ini dipicu oleh kerusakan alat berat pengolah sampah yang menyebabkan proses bongkar muat tersendat hingga mencapai perempatan Sibela, Jebres.
Kondisi ini disebut-sebut sebagai kemacetan truk sampah terparah dalam lima tahun terakhir, yang tidak hanya menghambat operasional kebersihan tetapi juga mengganggu akses mobilitas warga sekitar.
Penjadwalan Truk dan Peminjaman Alat Berat
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta, Herwin Tri Nugroho, mengonfirmasi bahwa kendala utama terletak pada kerusakan mesin alat berat di lokasi. Sebagai solusi jangka pendek, DLH akan menerapkan sistem penjadwalan kedatangan truk sampah agar tidak menumpuk di waktu yang sama.
“Kami akan atur supaya tidak menimbulkan antrean sepanjang itu. Teknisnya dijadwalkan dulu, jadi armada tidak datang bersama-sama,” ujar Herwin saat memberikan keterangan kepada media, Senin (09/02/2026).
Selain pengaturan jadwal, DLH Solo juga telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo untuk meminjam alat berat guna mempercepat penanganan tumpukan sampah di Putri Cempo sementara waktu.
Permohonan Maaf dan Langkah Strategis Wali Kota
Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat, khususnya warga Sibela, atas ketidaknyamanan yang terjadi. Ia menegaskan komitmennya untuk segera menyelesaikan masalah teknis di TPA terbesar di Solo tersebut.
Tak hanya fokus pada perbaikan alat, Respati juga telah menyiapkan langkah strategis untuk merombak tata kelola sampah di Kota Bengawan. Ia berencana melakukan optimalisasi teknologi pengolahan sampah dan penguatan program pemilahan di tingkat hulu atau rumah tangga.
“Pemilahan sampah dari sumbernya akan menjadi program prioritas agar mesin pengolahan di TPA dapat bekerja lebih efektif dan efisien. Fokus kami saat ini adalah memastikan TPA Putri Cempo mampu melayani kebutuhan warga Solo secara maksimal sebelum nantinya dikembangkan lebih lanjut,” pungkas Respati.
Langkah taktis ini diharapkan mampu meminimalisir ketergantungan pada alat berat di masa depan serta menciptakan sistem pengelolaan limbah perkotaan yang lebih berkelanjutan.
