Karya terbaru koreografer Otniel Tasman, “Dark Solanum (Extended Version)”, akan dipentaskan di Maybank Tower, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 12–13 November 2025. Pertunjukan ini merupakan bagian dari Maybank Foundation Artist Fellowship Programme yang berkolaborasi dengan Kaki Seni Kolektif.
Keberangkatan Otniel ke Malaysia ini mendapat sokongan penuh dari Pemerintah melalui Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya, sebuah program prioritas nasional yang dikelola oleh Kementerian Kebudayaan RI. Dukungan ini, disalurkan melalui skema MTN Presentasi, bertujuan memfasilitasi talenta seni Indonesia untuk tampil di panggung global, memperluas jejaring, dan meraih rekognisi internasional.
MTN Seni Budaya sendiri adalah program strategis yang fokus pada penjaringan, pengembangan, dan promosi talenta seni budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan, menghubungkannya dengan akses pasar nasional maupun global.
Eksplorasi Lengger dan Mak Yong Lewat Metafora Tomat
“Dark Solanum” adalah proyek eksperimentasi Otniel Tasman yang menelusuri ambiguitas, kegelapan, dan koneksi antarkultur lewat kekuatan tubuh. Gagasan ini telah melalui serangkaian pengembangan, mulai dari meraih Hibah Seni Kelola 2025 dan pementasan di Artjog 2025, hingga residensi di Berlin, Jerman, dan presentasi di Taipei serta Singapura.
Pada versi terbarunya di Kuala Lumpur, Otniel menggali ulang posisinya sebagai penari Lengger dengan berkolaborasi bersama Zamzuriah Zahari, penari Mak Yong asal Malaysia. Pertemuan dua tradisi ritus kesuburan ini menjadi upaya mengkaji ulang tubuh dan alam yang terkolonisasi.
Secara konseptual, Otniel menggunakan fenomena Solanum (tomat) sebagai metafora utama. Tomat, sebagai artefak alam, dipandang membuktikan ketiadaan seksual biner. Hubungan biologis manusia dan tomat ini menjadi titik penting untuk memahami fluiditas gender yang tercermin dalam tarian Lengger dan Mak Yong.
Sinergi Lintas Sektor dan Kolaborasi Seniman
Dalam penggarapan “Dark Solanum”, Otniel berkolaborasi dengan Nova Ruth dan Agha Praditya sebagai komposer, serta Mariska Setiawan sebagai soprano. Tim artistik di Kuala Lumpur diperkuat oleh S. Sophiyah K. sebagai direktur artistik dan Kristanto sebagai skenografer.
Proyek ini menjadi contoh nyata sinergi dukungan lintas sektor. Jejak kolaborasi internasionalnya meliputi penguatan hubungan diplomatik Indonesia–Jerman (melalui residensi) dan dukungan pemerintah melalui MTN Seni Budaya serta Dana Indonesiana. Dukungan dari Maybank Foundation di Kuala Lumpur memperluas dampak artistik karya ini di kawasan Asia Tenggara.
Tujuan akhirnya, “Dark Solanum” diharapkan dapat menjadi kontribusi penting dalam wacana tubuh, gender, dan identitas budaya kontemporer di Asia Tenggara.
