Berita terpenting dari Olimpiade Paris 2024 tak sekadar raihan medali emas. Bermula dari deretan suguhan dalam pembukaan Olimpiade Paris 2024, orang-orang di dunia terlibat debat merujuk “kebebasan”. Pesan-pesan dalam pembukaan menimbulkan perbedaan tafsir dalam pemaknaan “kebebasan” bagi Prancis dan negara-negara lain. Sungai Seine menjadi tempat memicu debat-debat mengalir dari segala arah. Debat mengalir sampai jauh.
Di Kompas, 29 Juli 2024, debat-debat dimuat dalam berita berjudul “Pesan ‘Kebablasan’ dari Olimpiade Paris”. Kita tak ingin ikut berdebat sengit tapi memilih menanti Indonesia meraih emas. Kita lelah dengan debat-debat politis dan persaingan sengit dalam pengumpulan medali emas-perak-perunggu boleh mengingat Paris (Prancis) melalui gubahan-gubahan sastra, dari masa ke masa.
Para pembaca sastra Prancis ingat nama terpenting: Charles Baudelaire (1821-1867). Dulu, ia menggubah puisi berjudul “Mabuklah!” Puisi mengabarkan arus peradaban sedang bergejolak di Eropa atau Prancis abad XIX dengan beragam perkara. Ia berseru rangsang kebebasan: Dan jika sembarang waktu, di tangga istana, di rumput/ hijau kamalir, dalam kesepian guram kamarmu, kau tersadar/ dan merasakan mabukmu sudah berkurang atau/ menghilang, tanyakanlah pada angin, pada gelombang,/ pada bintang, pada burung, pada jam, pada segala yang/ lari, pada segala yang merintih, pada segala yang berputar,/ pada segala yang bernyanyi,/ pada segala yang bicara,/ tanyakan jam berapa hari, dan angin, gelombang,/ bintang, burung, jam bakal menjawab: “Inilah saatnya/ untuk mabuk! Untuk tidak menjadi budak siksaan Sang Waktu, mabuklah; bermabuk-mabuklah tanpa henti-hentinya!/ Dengan anggur, dengan puisi atau kebajikan/ sesuka hatimu.”
Penggalan puisi mudah mendapat omelan oleh para pembaca di Indonesia tak menghendaki mabuk sebagai ejawantah kebebasan atau “perlawanan”. Konon, mabuk itu menjadikan orang dalam kenikmatan dan “keberanian”. Kita mengandaikan saja larik-larik dari Baudelaire merekam tatanan hidup sedang amburadul. Hidup dengan seribu tanda seru atas nama agama, politik, dan kapitalisme. Mabuk pun diserukan meski tak mutlak mengisahkan kebebasan.
Puisi itu terbaca dalam buku berjudul Sajak-Sajak Modern Perancis dalam Dua Bahasa (1972) susunan Wing Kardjo. Buku penting bagi umat sastra di Indonesia berminat atau menggandrungi sastra Perancis. Wing Kardjo menjelaskan: “Tetapi, kami yakin bahwa yang terpenting bahwa suara-suara yang mewakili puisi Perancis ini adalah suara penyairnya yang sejati, lengkap dengan dunia realitas sehari-hari, tetapi yang lebih penting lagi ialah dunia dalamnya. Sebab, bukanlah keuniversalan itu letaknya dalam dan intim. Dan suara batin yang intimlah yang bisa menghubungkan dua jarak yang jauh menjadi tanpa jarak.”
Ikhtiar besar diwujudkan untuk menjadikan (sastra) Perancis dan Indonesia berakraban. Buku itu memuat puisi-puisi gubahan Charles Baudelaire, Arthur Rimbaud, Paul Verlaine, Stephane Mallarme, Apollinaire, dan lain-lain.
Sejak remaja, Wing Kardjo tekun belajar bahasa Perancis agar bisa menikmati sastra Perancis. Ia telah lama terpikat Perancis. Wing Kardjo (1992) berbagi kenangan mengenai perjalanan ke Perancis: “Saya tiba di Paris pada tanggal 13 Januari 1963. Buku pertama yang saya beli di kios stasiun ialah kumpulan sajak Apollinaire.” Ia terkenang buku puisi, bukan roti, busana, musik, atau arsitektur.
Selama di Paris, ia tekun belajar sastra meski tergoda teater dan film. Pada masa 1960-an, ia pun tertular filsafat sedang berkecamuk di Prancis dan Eropa. Kedatangan di Paris memang bermisi pendidikan tapi Wing Kardjo mengerti ada kemungkinan mendekatkan “jarak” atau membuat “jembatan” untuk Indonesia dan Perancis. Sastra dijadikan pilihan untuk pengakraban. Ia tampil sebagai penerjemah sastra Perancis agar bisa dinikmati para pembaca di Indonesia.
Wing Kardjo terkesima dengan puisi-puisi gubahan Arthur Rimbaud (1853-1891). Ia mempersembahkan hasil terjemahan puisi Rimbaud dalam bahasa Indonesia berjudul “Pesta Lapar”. Puisi menggeliat dan riuh tanda seru: Jika aku lapar, hanyalah/ Lapar bumi dan lapar batu/ Ding! Ding! Ding! Santapan kita angin/ Batu dan arang besi// Hai, lapar, balik kau. Lapar, makanlah/ rumput padang suara!/ Hiruplah racun pesta gila/ Dari daun semak.
Kita tak melihat pembukaan Olimpiade ramai dengan puisi-puisi. Jutaan orang di dunia justru diajak menikmati kemerduan lagu-lagu dibawakan Celine Dion dan Lady Gaga. Lagu memang terpenting bagi dunia, tak lagi puisi-puisi dari pengarang-pengarang ampuh lahir di Perancis. Puisi mengenai mabuk (Baudelaire) dan lapar (Rimbaud) cuma teringat bagi orang-orang melek sastra mumpung sedang kepikiran Olimpiade Paris 2024.
Rimbaud, pengarang terkenal Perancis itu pernah “akrab” dengan Indonesia. Jalinan telah terjadi berlatar abad XIX. Kita membuka buku berjudul Orang Indonesia dan Orang Perancis: Dari Abad XVI sampai Abad XX (2006) susunan Bernard Dorleans. Beragam kenangan dicipta sejak ratusan tahun silam. Sastra turut menjadi rekaman terwariskan meski belum semua terkumpul dan tersajikan.
Di buku tebal dan besar mengingat kesilaman Indonesia-Perancis, kita membaca keterangan dari Denys Lombard: “Usia Rimbaud baru 22 tahun ketika ia mendaftarkan diri jadi serdadu Hindia-Belanda pada 1876…. Rimbaud telah mendengar kisah-kisah tentang Hindia-Belanda saat tinggal di Antwerpen dan Marseile, waktu ia bekerja sebagai kuli pelabuhan.”
Pada 1876, ia berhasil tiba di Hindia-Belanda. Ia menunaikan kerja di naungan kolonialisme. Pengisahan: “Pada 30 Juli 1876, Rimbaud pun meninggalkan Batavia menuju bandar Semarang dengan menumpang kapal Minister Fransen Van de Putte. Kemudian dari Semarang, dia naik kereta api ke Kedaung Jati. Dari sana, perjalanan rencananya dilanjutkan ke benteng Willem I yang merupakan garnisun Salatiga.”
Ia tak lama berada di Hindia-Belanda. Konon, ia desersi atau meninggalkan Salatiga dengan segala misteri. Ia mungkin tak sanggup atau cocok di militer. Pada suatu hari, ia telah sampai di Prancis. Dunia lekas mengetahui Rimbaud itu penggubah sastra, bukan serdadu. Ia memiliki pijakan, tafsir, dan perwujudan kebebasan berbeda dari perintah-perintah kolonialisme.
Kita mengingat lagi pesan kebebasan dalam pembukaan Olimpiade Paris 2024. Kebebasan itu tampak dari kehadiran sosok-sosok dianggap membuktikan Perancis untuk semua meski dianggap kebablasan. Kita tak mendapatkan godaan puisi-puisi agar menilik kebebasan bertautan dengan sejarah Indonesia atau biografi orang-orang Indonesia pernah studi di Perancis. Begitu.
