Apakah dalam daftar kegiatan di Pemerintah Kota Solo pada Kamis, 13 November 2025 tertera acara peringatan 45 Tahun kematian Sutami? Semoga saja kawan saya yang berada di lingkaran staf Walikota maupun Wakil Walikota Kota Solo lekas mencari informasi mengenai Sutami. Sebab, nampaknya keramaian akan bakso sudah paripurna. Itu penting, setidaknya untuk mengingatkan bahwa betapapun Sutami adalah sosok yang menjadikan Kota Solo sebagai awal pertumbuhannya.
Bahkan, syukur-syukur ada semacam peringatan untuk mengenang jasanya dan kontribusi pengetahuan—yang setidaknya dalam gagasan pembangunan kota. Tapi jangan menyinggung “Bapak Pembangunan”, lho! Toh, buat apa ada bapak pembangunan, saat kita masih menghasrati untuk terlambat bangun tidur. Namun, tidak jadi soal, sebab itu berpotensi jadi bekal untuk mendeklarasikan sebagai “Pahlawan Kesiangan”.
Di empat puluh lima tahun lalu, pemberitaan kematian Sutami dihadirkan oleh Majalah Tempo edisi 22 November 1980. Dalam rubrik tokoh berjumlah dua halaman dan berjudul “Perginya Seorang Pekerja” itu, di bagian awal, Sutami dikenang kiprahnya sebagai “teknokrat”, yang menaruh amanah bagi kemaslahatan bagi banyak orang. Tulis di Tempo begini: “Ia dikenal sebagai menteri yang tidak punya “wudel”. Proyek yang dibangunnya tidak cuma yang monumental, tapi juga buat rakyat yang terpencil.”
Sutami kiranya laik kita sebut sebagai agen kemajuan dengan berasas pada keadilan dan pemerataan. Barangkali itu tak lepas akan hasratnya terhadap ilmu dan pengetahuan, yang bahkan ini pernah memberanikan dirinya berdebat dengan dosennya ketika di Institut Teknologi Bandung (ITB), Rooseno berkait gagasan konstruksi bangunan atau beton. Kiranya Sutami mengajarkan akan pentingnya kesetiaan dalam menguji argumen, bukan memperpanjang sentimen.
Di Kelurahan Kemlayan, Serengan, Solo pada 19 Oktober 1928, Sutami lahir. Masa kecilnya dalam asuhan kekuatan seni dan budaya. Itu tak lepas dari keberadaan bapaknya, Raden Ngabehi Mloyowiguno yang merupakan pegawai bagian karawitan Keraton Kasunanan Surakarta. Pada masa mudanya, Sutami pun belajar menabuh gamelan dan menari, kemudian menjadi kegemarannya. Di liputan yang ditulis Tempo, bahkan mengangkat habitus dalam aktivitas itu. Adalah kebiasaannya berupa meminum ciu.
Penjelasannya begini: “Tanpa tedeng aling-aling Sutami pernah mengakui, untuk mengiringi kedua kegemarannya itu ia minum ciu (arak). Kemudian ia meninggalkan hobi itu ‘dan mulai memasuki cara berpikir, hitung menghitung dan tak mau kalah dengan orang lain.’” Apakah ciu yang sering diminum Sutami adalah ciu dari Bekonang, yang kemudian ditinggalkannya seiring setelah lulus dari SMA N 1 Solo pada 1950, satu tahun kemudian berlanjut kuliah di ITB? Agak rasional, untuk mengatakan bahwa mungkin, di Bandung, ia kesusahan mendatangkan ciu dari Bekonang pada waktu itu.
Namun, betapapun nalar keilmuan Sutami ini memang tak boleh diragukan. Indra Gunawan pernah menulis artikel berjudul “Sutami” di Majalah Intisari edisi No. 92, Maret 1971. Ia menjelaskan kecerdasan yang dimiliki Sutami semasa sekolah. Terangnya begini: “Hal lainnja jang barangkali lebih mengesankan adalah ketjerdasan otaknja, terutama sekali untuk ilmu2 pasti. Angka rata-rata dirapornja adalah 8½. Untuk Ilmu Alam 9 dan Ilmu Kimia 8. Sedangkan untuk mata peladjaran Aldjabar, Stereo, Goniometri dan Mekanika ia memperoleh angka 10 (sepuluh).”
Di Kota Solo, Sutami pernah gundah gulana akan pilihan melanjutkan pendidikan tinggi, sebelum akhirnya memutuskan berpindah ke Kota Bandung dengan memilih kuliah di Teknik Sipil ITB. Itu tak lepas dari perbincangan dengan kawannya, Achmad Baiquni, sosok yang lahir di Keprabon, Solo yang kemudian dikenal sebagai ahli fisika atom pertama Indonesia itu. Dalam arus ide kemajuan dan ilmu pengetahuan, Sutami kemudian menapaki lanskap berbagai urusan.
Dalam karier, ia menjabat menteri di dua zaman yang berbeda, masa Sukarno dan Soeharto. Kehidupannya yang sederhana telah terbentuk sejak kecil dalam asuhan pendidikan keluarga. Ia dikenal menteri yang sederhana bahkan bisa dikatakan miskin. Satu hal penting adalah keteguhan dalam prinsip. Anton De Sumartana menyusun buku berjudul Dari Habibie Hingga Silaban (Pelita Masa, 1979).
Dalam buku setebal 56 halaman tersebut, Sutami menjadi satu dari total sepuluh tokoh yang dibahas. Anton mengenang masa Sutami menjadi menteri akan prinsip yang dilakukan. Tulisnya: “Satu-satunya Menteri Indonesia yang pernah menyatakan mau mengundurkan diri jika karyanya gagal, baru Sutami Mulyowiguno. Hal itu dilakukan, jika percobaan listrik PUTL agal. Terjadi tahun 1972. Karena percobaannya berhasil, tidak jadi mundur.”
Dalam warisan intelektual, ada satu buku penting yang pernah digarap Sutami, yakni Ilmu Wilayah, Beberapa Pemikiran untuk Pembangunan Nasional (1980) diterbitkan oleh Badan Penerbit Pekerjaan Umum. Ia menyajikan gagasan makna wilayah dengan begitu kompleks dengan acuan argumen yang tidak menyempitkan makna pembangunan itu sendiri. Di sana ia mendefinisikan gagasan politik, ekonomi, soial, hingga budaya.
Di beberapa halaman ia menyoal kota. Satu hal mendasar yang ia soroti adalah masalah lingkungan hidup, alam. Ia menulis: “Kalau kerusakan alam pada umumnya sangat dirasakan akibatnya oleh daerah pedesaan (rural areas), maka pencemaran alam pada umumnya oleh daerah perkotaan (urban areas). Penduduk kota tersebut seolah-olah terkurung dalam batas-batas kota dan terancam oleh akibat pencemaran (yang bisa mengganggu kesehatannya) yang terjadi, baik di sekeliling, maupun di dalam kota itu sendiri.”
Setelah empat puluh lima tahun kepergian Sutami, kini kita masih merasa perlu memikirkan keberadaan kota. Betapa makin terancamnya akan kehilangan makna alam dalam bagi kalangan urban. Dengan banalitas yang makin terjadi, naga-naganya instrumen yang diperlukan tentu adalah kesadaran terhadap ilmu dan pengetahuan serta etika dan prinsip yang bertanggung jawab dalam menafsirkan pembangunan. Sebagaimana dilakukan oleh Sutami.
