Yang Tekun dan Sabar Menyusun

Novel ini mengisahkan orang-orang yang mencurahkan segala daya hidup untuk penyusunan sebuah kamus. Sederet tokoh di dalamnya tampak menaruh perhatian dengan penuh dan utuh untuk mencatat kata serta makna yang berseliweran di lingkungan sosial mereka; di peristiwa sehari-hari, di acara televisi, sampai di teks-teks sastrawi....

Pengajar Bahasa Inggris dan Peresensi Buku
Oleh Adib Baroya
8 November 2025, 07:30 WIB

Dengan menaiki kapal bernama kamus, manusia mengumpulkan cahaya-cahaya kecil yang mengapung di permukaan laut kelam agar bisa menyampaikan pikirannya kepada orang lain dengan kata-kata yang paling tepat dan sesuai. (hlm. 31)

Novel ini mengisahkan orang-orang yang mencurahkan segala daya hidup untuk penyusunan sebuah kamus. Sederet tokoh di dalamnya tampak menaruh perhatian dengan penuh dan utuh untuk mencatat kata serta makna yang berseliweran di lingkungan sosial mereka; di peristiwa sehari-hari, di acara televisi, sampai di teks-teks sastrawi. Tiada hari tanpa memikirkan kata, dan tak ada hari tanpa harapan kelak kamus bisa menjadi sumber referensi yang memberi nyala terang, memikat para pengguna bahasa.

Shion Miura memberi novel ini dengan judul Merakit Kapal. Suatu frasa alegoris untuk menggambarkan bahwa kamus, sebuah karya yang merangkum daftar kata yang dideret secara alfabetis, lengkap dengan maksud, kelas kata, pelafalan, sampai konteks keseharian, tak ada beda sama kapal.

Pasalnya, benda ini bisa digunakan guna mengarungi lautan makna maha luas dan mengantarkan sesiapa sampai pada tujuan komunikatif dengan lugas. Pengandaian kamus bak kapal ini bisa dibilang cukup puitis dan tepat. Bukankah proses komunikasi antar sesama penutur akan runyam & tenggelam bilamana maksud di antaranya tak sampai berlabuh di dermaga pikiran?

Novel yang pernah menyabet Booksellers Award di Jepang pada tahun 2012 ini menempatkan Mitsuya Majime sebagai tokoh utama. Para pembaca diajak untuk merasai pikiran dan perjalanan Mitsuya Majime sebagai kawula muda, dengan gender laki-laki, yang amat menaruh hati pada dunia kata-kata, tetapi malah sering luput dan canggung untuk mengungkapkan perasaannya sendiri, apalagi di dalam momen-momen yang belum pernah dia alami.

Sampul Buku_Merakit Kapal

Barangkali Mitsuya Majime adalah tipikal manusia yang menomorsatukan – biar tak menyebutnya “hanya peduli” – pada kata. Bahasa dan segala turunannya, sebagai sebuah sistem, agaknya punya pikat tersendiri, dan Mitsuya Majime adalah representasi dari satu di antara sekian insan yang tulus serta serius menekuninya.

Shion Miura menarik pembaca untuk menelisik bagaimana kerja-kerja penyusunan sebuah kamus. Penggarapan ini niscaya memerlukan waktu yang tak pendek dan pengorbanan yang tak sedikit. Semuanya terarah dan terkuras untuk mencari dan menangkap makna kata, setepat-tepatnya. Ini mencakup pikiran, mental, dan daya tahan fisik, belum lagi usia – sebab kamus kerap butuh waktu bertahun-tahun bahkan lebih dari satu dekade.

Proyek akbar ini pun melibatkan banyak pihak; dari mulai supervisi, editor, ahli bahasa, profesor, hingga jajaran mahasiswa dan pekerja lepas.

Pencarian Makna

Dengan membentangkan kisah ini, Shion Miura pada dasarnya mempertontonkan pada pembaca bahwa kamus adalah bukti kesungguhan dengan dedikasi tinggi dalam mengurusi dan membentuk bahasa. Tokoh-tokoh dalam novel – yang bekerja di bawah satu payung yang sama, yakni Redaksi Kamus di penerbit Genbu – sadar bahwa bahasa semestinya lepas dari belenggu kekuasaan dan pandangan menindas, penuh stereotip dan tak akomodatif pada yang-liyan. Mereka sadar kata-kata menyimpan energi yang lebih besar, yang mungkin terselubung dan tak kasat, mengakibatkannya tak sekedar rangkaian abjad.

Artikel Terkait