SURAKARTA – Aroma minyak kayu putih bercampur harum masakan pagi menyambut kedatangan belasan Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Tingkat I Angkatan 60 Batalyon Manggala Satya di Panti Jompo Aisyiyah, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Solo, Jumat (12/6/2026). Di antara seragam cokelat muda yang tampak rapi itu, sosok Fasha Fernanda melangkah tegap sambil membawa kardus berisi beras, telur, minyak goreng, dan susu. Wajahnya terlihat tenang, namun matanya menyimpan antusiasme yang tinggi saat menyapa satu per satu penghuni panti yang tengah duduk santai di teras.
Senyum para lansia pun perlahan merekah menyambut kehadiran mereka. Sebagian dari mereka berusaha berdiri menyambut dengan hangat, sementara sebagian lain yang memiliki keterbatasan fisik hanya mampu mengangkat tangan dan menganggukkan kepala. Kehadiran para taruna muda tersebut seakan menghidupkan kembali suasana pagi di panti jompo yang biasanya berjalan pelan dan sepi. Bagi para penghuni panti, bantuan sembako materiil memang sangat berarti. Namun, jauh di lubuk hati, hal yang lebih mereka nantikan adalah kehadiran sosok-sosok yang bersedia duduk bersama, mendengarkan cerita, dan memberikan perhatian tulus tanpa terburu-buru oleh waktu.
Usai menyerahkan bantuan secara simbolis, Fasha memilih untuk duduk di samping seorang lansia perempuan yang rambutnya telah memutih seluruhnya. Di tengah hiruk-pikuk kegiatan, ia tidak banyak berbicara. Ia justru memilih untuk lebih banyak mendengarkan. Perempuan tua itu pun mulai bercerita banyak hal, mulai dari masa muda yang indah, tentang anak-anaknya yang kini tinggal berjauhan, hingga tentang rasa kerinduan mendalam yang kadang datang menyergap saat malam mulai turun.
Tak ada telepon genggam yang dipegang oleh Fasha selama berinteraksi. Tak ada pula percakapan lain yang mengganggu fokusnya untuk menghormati sang nenek. Sesekali ia mengangguk, tersenyum tulus, lalu tertawa kecil ketika sang nenek mengenang kisah-kisah lucu puluhan tahun silam. Di sudut ruangan lain, rekan-rekan sesama taruna melakukan hal serupa. Mereka berbaur, berbincang hangat, menggenggam erat tangan para lansia, dan mendengarkan berbagai kisah kehidupan masa lalu yang penuh dengan perjuangan.
Suasana berubah menjadi sangat menyentuh ketika seorang lansia tampak kesulitan menggerakkan tangannya yang gemetar untuk menyuap makanan ke mulut. Melihat hal itu, Fasha dengan sigap segera mendekat. Ia mengambil sendok dari piring dan duduk tepat di samping perempuan lansia tersebut. Dengan penuh kesabaran, ia menyuapkan makanan sedikit demi sedikit agar tidak tersedak.
“Dhahar njih (Makan dulu),” ucap Fasha dengan nada suara yang sangat pelan dan lembut.
Kalimat sederhana dalam bahasa Jawa krama inggil yang berarti “silakan makan” itu terdengar begitu hangat di dalam ruangan. Sendok demi sendok bergerak perlahan dari piring menuju mulut sang lansia. Sesekali dengan penuh kelembutan, Fasha menyeka sisa makanan yang menempel di sudut bibir perempuan tua tersebut menggunakan selembar tisu.
Saat itulah mata taruna muda tersebut mulai berkaca-kaca menahan haru. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tersenyum di depan sang nenek, namun suasana emosional yang menyelimuti momen itu sulit disembunyikan. Beberapa penghuni panti dan pengurus yang menyaksikan momen tersebut tampak ikut terdiam. Ada yang tersenyum tipis penuh haru, ada pula yang diam-diam mengusap sudut mata mereka yang basah. Mereka seolah tersentuh menyaksikan secara langsung bagaimana usia senja membuat seseorang sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang yang lebih besar.
“Karena berbagi bukan tentang menunggu berkelebihan harta, melainkan tentang ketulusan hati untuk meringankan beban sesama,” ujar Fasha, mengutip filosofi kepemimpinan yang disampaikan dan selalu ditekankan oleh Gubernur Akademi Kepolisian (AKPOL), Irjen Pol Daniel Tahi Monang Silitonga. Jenderal bintang dua tersebut memang selalu berpesan kepada para taruna mengenai pentingnya memiliki ketulusan, kepedulian sosial, serta melayani masyarakat dengan sepenuh hati.
Nilai kemanusiaan tersebut, lanjut Fasha, terus ditanamkan secara konsisten dalam kurikulum pendidikan Akpol. Seorang anggota Polri masa depan tidak hanya dituntut memiliki fisik yang kuat serta cakap dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga harus dibekali empati yang tinggi dan kepedulian sosial yang kuat terhadap kaum yang lemah.
Sementara itu, Komandan Kelompok Latihan Jabatan (Latja), Cheva Achmad, mengatakan bahwa kegiatan bakti sosial ini memberikan pengalaman spiritual dan batin yang sangat berharga bagi seluruh taruna yang terlibat langsung di lapangan.
“Kami telah melaksanakan kegiatan bakti sosial sebagai bentuk kepedulian kami sebagai Taruna Akpol kepada masyarakat, khususnya kepada lansia di panti ini. Pertemuan ini mengajarkan kita untuk lebih bersyukur dengan menghormati orang yang lebih tua. Kami berharap kegiatan ini bisa bermanfaat bagi lansia dan mampu menginspirasi generasi muda agar lebih peduli kepada lingkungan masyarakat sekitar,” ungkap Cheva.
Respons positif dan rasa terima kasih yang mendalam juga disampaikan oleh Pengurus Panti Jompo Aisyiyah, Agus Setiawan. Ia mengaku sangat tersentuh dengan kebaikan dan perhatian besar yang diberikan oleh para taruna Akpol angkatan muda tersebut.
“Kami sangat berterima kasih atas perhatian yang diberikan. Bantuan sembako ini memang sangat membantu memenuhi kebutuhan fisik sehari-hari penghuni panti. Namun, kehadiran para taruna di sini memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga dan tidak bisa diukur dengan materi, yaitu kebahagiaan psikis. Kehadiran mereka membawa suasana baru yang segar dan memberikan semangat hidup bagi para penghuni panti,” tutur Agus dengan wajah sumringah.
Di antara guratan wajah para penghuni panti, Narti (80) menjadi salah satu lansia yang memancarkan rona paling bahagia hari itu. Dengan suara yang pelan, parau, dan tangan yang mulai bergetar karena usia, ia menyelipkan doa tulus agar para taruna senantiasa diberikan kelancaran dan kesuksesan dalam menggapai cita-cita mereka menjadi perwira polisi. Ia berharap mereka kelak tumbuh menjadi pemimpin-pemimpin Polri yang amanah, mampu mengayomi masyarakat kecil, dan membawa bangsa Indonesia menuju kemajuan yang berkeadilan.
Doa itu terdengar sangat sederhana. Namun bagi para Taruna Akpol Tingkat I Angkatan 60 Batalyon Manggala Satya, doa tulus dari seorang ibu yang telah melewati asam garam kehidupan selama puluhan tahun itu terasa jauh lebih bernilai dan berharga daripada penghargaan formal apa pun. Ketika waktu kunjungan harus berakhir dan para taruna mulai berpamitan untuk kembali ke barak, beberapa lansia bahkan tampak memegang erat dan enggan melepaskan genggaman tangan para taruna muda tersebut.
Di tengah dinamika dunia modern yang bergerak semakin cepat, egois, dan sibuk, pagi itu di sudut Kota Solo menghadirkan sebuah pelajaran berharga yang sangat sederhana tentang arti kemanusiaan sejati. Bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu lahir dari perkara-perkara besar atau kemewahan materi. Kadang kala, kebahagiaan itu hadir sesederhana dari kesediaan kita untuk meluangkan waktu, duduk bersama, mendengarkan keluh kesah mereka yang kesepian, menggenggam jemari yang telah renta, lalu membisikkan sebuah kalimat tulus, “Dhahar njih.”
