Film ‘Potret’ dan Ikhtiar Merawat Ruang Aman bagi Korban Kekerasan Seksual di Solo

Cahaya lampu di Hetero Space Solo meredup saat puluhan pasang mata terpaku pada layar yang memutar film Potret karya sutradara Reni Apriliana. Pemutaran film pada Minggu malam, 12 April 2026 tersebut bukan sekadar apresiasi sebuah film, melainkan pemantik diskusi mendalam mengenai urgensi ruang aman dan isu kekerasan seksual yang kerap tersembunyi di balik ruang personal.

Oleh rambak.co
13 April 2026, 15:59 WIB

Rambak.co, SURAKARTA– Cahaya lampu di Hetero Space Solo meredup saat puluhan pasang mata terpaku pada layar yang memutar film Potret karya sutradara Reni Apriliana. Pemutaran film pada Minggu malam, 12 April 2026 tersebut bukan sekadar apresiasi sebuah film, melainkan pemantik diskusi mendalam mengenai urgensi ruang aman dan isu kekerasan seksual yang kerap tersembunyi di balik ruang personal.

Kegiatan yang diinisiasi oleh lembaga SAVARA ini merupakan hasil kolaborasi lintas komunitas, melibatkan Sinema Warga, Hetero Space Solo, serta dukungan penuh dari para relawan. Diskusi bertajuk “Kekerasan Seksual dalam Ruang Publik dan Personal (Intimate Partner Violence)” ini menghadirkan perspektif dari berbagai sudut pandang ahli dan praktisi.

Yulita Putri, founder dari Savara, menegaskan bahwa acara ini lahir dari kegelisahan terhadap angka kekerasan yang terus meningkat. Merujuk pada Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan, kekerasan dalam relasi personal masih menjadi bentuk yang paling dominan di Indonesia.

“Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia merepresentasikan pengalaman, luka, dan suara yang sering kali tidak terdengar,” ujar Yulita. Menurutnya, diskusi ini adalah upaya nyata untuk melakukan transfer pengetahuan sekaligus merawat ruang aman di Surakarta bagi para korban yang tengah berjuang mencari keadilan.

Bedah Film dan Perspektif Gender

Diskusi yang dipandu oleh sineas Fanny Chotimah ini menghadirkan dua narasumber utama: Reni Apriliana selaku sutradara film Potret dan Firda Ainun Uli, pegiat isu gender dari Rifka Annisa WCC.

Situasi saat pendiskusian berlangsung
Situasi saat pendiskusian berlangsung

Dalam sesinya, Firda Ainun Uli menyoroti kompleksitas Intimate Partner Violence (IPV). Kekerasan dalam hubungan personal sering kali sulit terdeteksi karena adanya relasi kuasa dan keterikatan emosional antara korban dan pelaku. Kehadiran film Potret dianggap berhasil memvisualisasikan dinamika tersebut, sehingga audiens dapat lebih memahami manifestasi kekerasan yang mungkin terjadi di sekitar mereka.

Seni sebagai Media Advokasi

Acara tidak hanya diisi dengan bedah isu secara teoritis. Luna Kharisma dari Mirat Kolektif memberikan sentuhan performatif melalui pembacaan cerpen berjudul “Pukul Dua Malam”. Penampilan ini mempertegas pesan emosional tentang kerentanan dan ketangguhan perempuan dalam menghadapi situasi krisis.

Saat berlangsungnya diskusi
Saat berlangsungnya diskusi

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 18.30 WIB hingga selesai ini dihadiri oleh puluhan peserta dari berbagai latar belakang. Melalui kolaborasi ini, Savara dan mitra komunitasnya berharap masyarakat Surakarta semakin peka terhadap isu kekerasan seksual dan mampu membangun ekosistem yang suportif bagi penyintas,

Artikel Terkait