Waktu itu ruangan amat pepat. Para pengunjung tengah mempersiapkan diri menyaksikan film dokumenter. Benar, sebuah film dokumenter diputar di warung kopi Lahan Subur. Seperti namanya, warung itu sangatlah subur. Para pengunjung sering berdatangan. Mereka menganggapnya bukan hanya sebagai tempat singgah, akan tetapi sebagai bagian hidup mereka.
Lahan Subur bisa dibilang sebagai warung kopi alternatif di Kota Surakarta. Artinya Lahan Subur tak seperti warung kopi pada umumnya -membeli, menikmati kemudian pergi. Di Lahan Subur tidak demikian. Para pengunjung seperti seorang Kawan atau yang paling radikal menyebutnya sebagai keluarga.
Mereka singgah bukan hanya bersinggah kemudian jengah. Mereka singgah untuk merawat. Secangkir kopi yang dibarter dengan selembar uang bukan untuk penikmat sendiri. Secangkir kopi itu adalah pengikat untuk merawat ruang bersama bernama Lahan Subur. Mafhum Lahan Subur hidup dengan seabrek aktivitasnya seperti: apresiasi seni, sastra, bahkan sampai memperbincang pertanian. Lalu Lalang yang datang tak ingin lekang. Sebuah film berhasil tayang, datang dari kenangan.
Kita melihat warung kopi lekat dengan mereka yang doyan bertukar Ide. Filsuf Prancis Jean Paul Sartre menempatkan ‘warung kopi’ sebagai latar tempat, di tengah penyampaian ide mengenai gagasan briliannya bernama ‘eksistensialisme’. Adalah naskah drama ‘Pintu Tertutup’ penerbit Pustaka Jaya tahun 1975.

Agaknya warung kopi menjadi tempat terbaik, para pemikir untuk menukarkan gagasannya. Mereka bisa melamun berjam-jam atau bahkan berdebat dalam ruang-ruang ide dengan begitu nikmat.
Di Mesir Naguib Mahfouz sering melibatkan Café (Warung Kopi). Bukan tanpa alasan, keberadaan Café itu, sebagai tempat perenungan paling penting dalam hidup Mahfouz. Bahkan sebuah Café di Mesir menamai warung Kopinya sebagai Warkop ‘Naguib Mahfouz’, untuk mengenang Naguib yang harum sekaligus pelanggan dan penikmat kopi.
Warung kopi telah menjadi rujukan kaula muda untuk bersua. Warung kopi menghadirkan perjumpaan-perjumpaan penting. Di Mojosongo, Surakarta Warkop Lahan Subur berdiri. Warkop itu bukan hanya menjajakan pelbagai jenis kopi, akan tetapi sebagai ruang ekspresi. Konon Warkop itu sebagai rumah kedua untuk mengekspresikan sebuah makna.
Melewati perjalanan panjang yang tak mudah, Lahan Subur ingin hidup seribu tahun lagi. Beberapa kegiatan berhasil dilangsungkan. Waktu lewat begitu saja, namun mereka tak ingin membiarkannya. Syahdan, Pegiat film bernama Kota Owatari terpikat. Ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, saat menapakan kakinya di Lahan Subur.
Namanya Kota Owatari. Ia berkuliah di Universitas Sebelas Maret mengambil jurusan desain komunikasi visual. Ia piawai dalam hal berkesenian, terkhusus urusan fotografi. Kota berasal dari Shizuoka Jepang. Ia aktif dalam mendokumentasikan kehidupan dan budaya di Indonesia khususnya perihal subkultur. Sebuah karya film dokumenter perdananya bernama Zenryoku! Film yang diniatkan untuk Tugas Akhir guna menyelesaikan urusan studi ini justru sempat nongkrong pada sebuah rangkaian festival film di dua kota (jepang) pada awal 2026.

Baginya kamera adalah sahabatnya. Ia ingin mengabadikan tiap momen di Surakarta yang menurutnya patut untuk diabadikan.
“Dunia berjalan sangat cepat, ada banyak hal menarik yang terlewatkan dan sepertinya saya memiliki sudut yang berbeda dalam menangkap keindahan. Hal-hal yang sederhana mungkin, saya ingin mengabadikannya,” jelas Kota saat menyampaikan terkait film pendek dokumenter Kedai Lahan Subur. Perjumpaan dengan Kedai Lahan Subur memberikan sejumput kisah dan harapan. Kota yang tinggal di negeri yang mulanya asing, bersua dengan kawan di Lahan Subur, berubah menjadi lekat dan sumringah.
Kota sempat kagum dengan perjumpaannya di Lahan Subur. Sebelumnya Ia jarang merasakan nikmat bercengkrama seperti hal nya di Lahan Subur. “Bagiku disini sangatlah bersahabat, semua orang mudah sekali bersahabat dan berkawan,” paparnya.
Momen-momen penting tentang perjumpaan tak ingin kalut begitu saja. Kota Owatari menginginkan momen itu tetap terabadikan. Ia menginginkan perjumpaannya dengan Lahan Subur dan Kawan-kawan tetap abadi tak pernah pudar. Berbinar seribu tahun lagi.
Perjumpaan Menuai Manfaat
Pertemuan berlangsung di Kedai Lahan Subur. Suatu malam, Kota bersua dengan seorang seniman cum aktivis Okki Munanda -penggagas Kedai Lahan Subur. Berteman secangkir kopi dan belasan rokok, mereka berbincang tentang arti menjalani hidup.
Dengan mantap Kota berujar, bahwa keputusannya untuk membuat film dokumenter tentang Lahan Subur dimulai dari perbincangan bersama Okki Munanda. Sekelibat ide menyeruak tatkala kepiawaian Kota dalam kameranya itu, mendapatkan apresiasi besar dari Okki.
Okki meluruskan, keputusanya bekerja sama membikin film dokumenter, dimulai dari persahabatan dan perkawanan. Begitulah mereka merawat perkawanan yang konon amatlah tinggi nilainya. Pada Rabu (15/04/2026) sebuah film Dokumenter ditayangkan di Lahan Subur. Film itu menampilkan cuplikan-cuplikan Lahan Subur menjadi ruang aktivitas penting pengunjungnya. Lahan Subur bukan hanya menjadi tempat singgah, akan tetapi ruang berekspresi bagi siapapun.
