Ketika Healing Tak Perlu Mahal: Tinggalkan Kota, Nyalakan Kijang, Cari Kabut

Saat kota ribut soal target hidup, Kijang ini justru mengajari kami cara berhenti.

Oleh rambak.co
11 Februari 2026, 01:06 WIB

Di tengah hiruk-pikuk Kota Solo yang makin padat oleh rutinitas dan tenggat waktu, sebagian orang memilih mencari jeda dengan cara sederhana: pergi. Bukan ke pusat perbelanjaan atau kafe, melainkan ke alam terbuka. Tren camping menggunakan campervan—atau mobil pribadi yang dimodifikasi ala camper—kini kian diminati. Ia menawarkan kebebasan, keheningan, dan jarak yang sehat dari kehidupan kota.

Salah satu yang menjalaninya adalah Om Bubur. Begitu ia biasa disapa. Hampir setiap akhir pekan, ia mengajak istrinya bertouring kecil-kecilan, menyusuri jalur pegunungan, berhenti di tempat-tempat sunyi yang jauh dari kebisingan. Mobil yang digunakannya bukan kendaraan mahal atau khusus pabrikan luar negeri. Ia hanya mengandalkan sebuah Toyota Kijang lawas yang dimodifikasi menjadi semi campervan.

Di dalam mobil itu, tak ada kemewahan. Hanya kasur lipat, kompor kecil, peralatan masak sederhana, dan ruang sempit yang diatur seefisien mungkin. Namun justru dari kesederhanaan itulah rasa lepas muncul. “Yang dicari bukan fasilitasnya, tapi suasananya,” ujarnya saat ditemui di salah satu lokasi camping di Tawangmangu Wonder Park

Bagi Om Bubur, perjalanan mingguan ini menjadi cara paling jujur untuk melepaskan penat hidup di kota. Bekerja dan menjalani rutinitas di Solo membuat hari-hari terasa cepat berlalu, padat, dan sering kali melelahkan secara mental. Camping bersama istri bukan sekadar liburan, melainkan upaya merawat kewarasan—mengganti suara klakson dengan desir angin dan kicau burung.

Fenomena campervan memang tak bisa dilepaskan dari perubahan cara orang memaknai waktu luang. Jika dulu liburan identik dengan hotel dan destinasi ramai, kini banyak orang justru mencari ruang-ruang sepi. Mobil yang dimodifikasi menjadi campervan memberi kebebasan menentukan rute, waktu, dan tempat singgah. Tidak terikat jadwal, tidak bergantung reservasi.

Bagi Om Bubur, mobil Kijang yang dimodifikasi itu bukan sekadar alat transportasi, melainkan rumah kecil yang berjalan. Setiap perjalanan selalu diakhiri dengan ritual sederhana: menyeduh kopi di pagi hari, menatap kabut yang turun perlahan, dan menyadari bahwa hidup tak selalu harus dikejar. Kadang, cukup dijalani pelan-pelan.

Di tengah tren yang terus berkembang, kisah Om Bubur menunjukkan bahwa campervan bukan tentang gaya hidup mahal. Ia tentang pilihan untuk berhenti sejenak, memutar kunci mobil, dan mengemudi menjauh dari keramaian—pulang ke alam, sebelum kembali ke kota dengan kepala yang lebih ringan.

Artikel Terkait