Tulisan ini adalah lanjutan dari potret Bali yang sebelumnya kita baca seperti peta Grand Theft Auto GTA: San Andreas sebuah game yang dirilis pertama kali pada tahun 2004 dan dikembangkan oleh Rockstar Games. Gim ini disutradarai dan ditulis oleh Dan Houser, dengan ambisi besarnya yaitu menghadirkan dunia terbuka (open world) yang tidak hanya luas, tetapi hidup dipenuhi konflik sosial, kelas, dan perebutan ruang kota.
Terinspirasi dari California awal 1990-an. San Andreas menjadikan kota fiksi sebagai cermin ketegangan nyata, bukan sekadar latar aksi. sebuah permainan nostalgia yang, entah disadari atau tidak, telah membentuk cara banyak orang memahami kota, ruang, dan konflik sosial. Jika sebelumnya Bali kita petakan sebagai wilayah-wilayah San Andreas, maka kali ini fokusnya kita turunkan ke level yang lebih dekat dengan manusia yaitu para penghuninya dan ruang hidup yang mereka perebutkan setiap hari.
Kami merasa perlu membuat sebuah permakluman kecil sebelum melangkah lebih jauh. Kami menyadari bahwa tidak semua pemain GTA menyelesaikan misi dengan rapi.
Sebagian besar dari kita, jujur saja lebih sering keluyuran tanpa tujuan sepanjang permainan seperti mencuri mobil, bikin kekacauan di jalanan, lalu kabur tanpa tahu ceritanya ke mana. Karena itu, agar pembacaan ini tetap relevan dan tidak membingungkan, tulisan ini sengaja dibatasi hanya pada situasi di Los Santos (Denpasar) : kota awal permainan dimana tiga warna besar : hijau , ungu, dan kuning. Mereka hidup berdampingan dalam ruang yang sempit, panas, dan penuh gesekan. Dari sanalah analogi Bali sebagai ruang hidup bersama mulai masuk akal untuk dibicarakan.
Di Los Santos, warna bukan sekadar estetika peta. Hijau, ungu, dan kuning adalah penanda siapa hidup di mana dan bagaimana cara mereka bertahan. Pada fase awal Grand Theft Auto: San Andreas, pemain langsung diperkenalkan pada tiga kelompok ini tanpa perlu membaca penjelasan panjang. Kita mengenal mereka lewat misi-misi kecil, gesekan sederhana, dan situasi sehari-hari yang terasa dekat yang bahkan sebelum kita benar-benar paham akan ceritanya.
Kita mulai dari Wilayah Hijau : Grove Street Families (GSF) merupakan warna pertama yang menyambut kepulangan Carl Johnson (CJ) Karakter Utama dalam Gim GTA San Andreas. GSF muncul bukan sebagai penguasa kota, melainkan sebagai komunitas yang sedang melemah dan mencoba bertahan di rumahnya sendiri. Dalam metafora ini, GSF dapat dibaca sebagai etnis Bali sebagai tuan rumah sebuah pulau yang punya ikatan emosional kuat dengan ruang, tetapi harus terus menerus dipaksa bernegosiasi dengan perubahan. Di misi-misi awal, CJ lebih banyak membersihkan masalah internal, menjaga wilayah, dan mempertahankan sisa-sisa pengaruh. Jadi Hijau ini adalah soal rumah dan tidak punya watak ekspansif.
Selanjutnya, Ungu adalah Ballas. Mereka hadir hampir bersamaan sebagai bayang-bayang terdekat. Gesekan dengan Ballas biasanya terasa cepat dan intens. Salah satunya lewat misi ikonik adalah saat pemain diberi misi coret-coret grafiti. Ini merupakan simbol sederhana tentang perebutan ruang dan pengaruh. Bukan perang besar, melainkan saling menandai wilayah, saling menunjukkan keberadaan. Dalam pembacaan imajiner ini, Ballas bisa dipadankan dengan etnis Jawa. Kelompok yang masih dianggap sebagai pendatang besar, sudah lama hadir, terorganisir, dan piawai membaca sistem kota. Konflik hijau dan ungu di awal permainan bukan soal siapa lebih benar, tetapi siapa lebih siap bertahan di ruang yang sama.
Kemudian kelir Kuning penguasanya adalah Los Santos Vagos, kelompok ini sering muncul dengan cara yang berbeda. Mereka menguasai titik-titik tertentu yang terasa “keras” dan anonim. salah satunya area gedung parkir yang dalam ingatan banyak pemain identik dengan motor sport bernomor 46. Vagos hadir sebagai kelompok yang kuat di wilayahnya sendiri dengan solidaritas yang lahir dari hidup di pinggiran. Dalam metafora Bali, posisi ini dibaca sebagai keberadaan etnis Timur. Mereka terlihat, sering hadir di ruang-ruang pekerjaan kasar dan publik, tetapi kerap diposisikan di luar lingkar utama pengakuan struktural.
Menariknya, pada misi-misi awal ini CJ tidak pernah benar-benar memilih satu warna dan memusuhi yang lain secara ideologis. Ia hanya bergerak mengikuti logika kota. Misalnya : siapa tetangga terdekat, siapa yang mau berbagi jalan, dan siapa paling sering bersinggungan. Hijau, ungu, dan kuning tidak hidup terpisah. Mereka saling melihat, saling bersentuhan, dan kadang saling menyulut emosi. Semua ini mirip seperti kehidupan di kota padat seperti Denpasar yang ruangnya sempit dan terbatas.
Dengan cara itu, GTA San Andreas sejak awal mengajarkan bahwa konflik sosial sering kali berangkat dari kedekatan, bukan perbedaan yang jauh. Dan di situlah analogi Bali bekerja: tiga kelompok besar yang hidup berdampingan, membawa latar berbeda, tetapi dipertemukan oleh ruang hidup yang sama. Seperti Los Santos, ketegangan itu tidak lahir karena warna yang berbeda, melainkan karena semua orang sedang berusaha mempertahankan tempat kehidupannya masing-masing dalam ruang peta yang semakin sempit.
Jika Los Santos adalah Denpasar hari ini, maka gesekan tiga warna : hijau, ungu, dan kuning akan menjadi bukan sekadar warisan nostalgia Grand Theft Auto: San Andreas, melainkan cermin realitas Bali yang sedang memanas. Hijau, sebagai tuan rumah rakyat Bali, menghadapi tekanan mempertahankan ruang hidup dan tradisi leluhur. Ungu, pendatang etnis Jawa, sering berbenturan dengan batas-batas sosial seperti larangan ngekos di lingkungan tertentu, syarat kerja yang menutup akses bagi warga Muslim, hingga hinaan sehari-hari seperti sebutan “Nak Jawe” dan Kuning, etnis Timur. Selalu berada di pinggiran posisi diskriminasi yang membuat mereka sulit sepenuhnya diterima sebagai bagian dari kota. Ketegangan ini makin berat ketika bencana alam akibat alih fungsi lahan justru merugikan masyarakat Bali sendiri, menambah rasa frustrasi di semua sisi.
Namun, seperti dalam San Andreas, konflik di level jalanan bukanlah pusat kendali sesungguhnya. Di atas hiruk-pikuk Los Santos, berdiri kekuatan lain yang bekerja dalam sunyi. Las Venturas (Kuta) dan San Fierro (Canggu), dalam metafora gim mereka lebih tepat dibaca sebagai wilayah operasi Russian Mafia. Mereka adalah kelompok elite dalam GTA yang tidak berebut ruang sempit, tetapi menguasai uang, jaringan internasional, dan perlindungan sistem hukum. Mereka jarang terlihat dalam konflik hijau–ungu–kuning, tetapi justru diuntungkan olehnya.
Seperti Russian Mafia di San Andreas yang beroperasi lewat judi kasino, bisnis gelap, prostitusi ilegal dan hubungan dengan aparat korup. Ekspatriat pengusaha di Bali, dalam pembacaan metaforis ini hidup dalam level yang sama sekali berbeda. Mereka bekerja sama dengan “pemerintah atau polisi jahat” versi GTA. Struktur yang seharusnya menjaga kota, tetapi justru membuka celah eksploitasi dan selama tiga kelompok dominan di Los Santos sibuk bertengkar soal identitas dan ruang kota, kekuatan ala mafia ini terus memperluas pengaruhnya seperti menguasai alih fungsi lahan produktif menjadi villa, arus ekonomi hiburan malam dan arah kosmopolitan pulau tanpa pernah benar-benar tersentuh konflik akar rumput.
Melalui kacamata ini, rasisme dan diskriminasi di Bali tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari permainan yang lebih besar, di mana konflik horizontal di bawah dimanfaatkan oleh aktor level atas untuk terus menekan dan mengeksploitasi pulau. Kondisi yang sama seperti San Andreas: Para geng jalanan saling melemahkan, sementara mafia tetap duduk nyaman mengatur permainan dari kejauhan.
Pada akhirnya, jika Bali memang kita baca seperti Grand Theft Auto: San Andreas. Maka musuh bersama bukanlah warna hijau, ungu, atau kuning. Musuh sesungguhnya adalah eksploitasi berikut bagaimana cara ruang hidup diperas, identitas etnis yang terus diadu, dan konflik horizontal dipelihara agar kekuasaan di level atas tetap aman. Selama tuan rumah, pendatang, dan mereka yang terpinggirkan terus bertarung satu sama lain, permainan akan selalu dimenangkan oleh pihak yang tak pernah turun ke jalan, tak pernah kena razia, tak pernah diminta mengurus kipem (kartu identitas penduduk sementara) dan tak pernah benar-benar mempertaruhkan apa pun selain keuntungan.
