Detik jam berdenting mengarahkan untuk menjadi silam. Sesuatu yang berlangsung ‘kini’ berubah menjadi sesuatu yang ‘baru saja’ kemudian menjadi kemarin dan usang bagi yang kurang beruntung.
Oksigen yang kita konon membikin kita tetap hidup, nyatanya membuat kita menjadi keriput, renta dan mati. Pergantian tahun kerap kali dirayakan dengan suka ria. Asap kimia petasan yang merebak dilahap udara malam kota, mulut kecut di waktu pagi, menggaruk-garuk untuk memaknai mengapa kita lantas tetap hidup.
Alan Lightman membahasan waktu dari sekelumit kisah dalam ilmu fisika. Kode-kode rumus ia jabarkan ke dalam tanda-tanda. Gemercik air yang mengalir membawa manusia melaju dalam aras waktu yang terus berkecamuk. Meskipun kita diam, waktu akan menyeretnya sederas kemampuannya yang kontinu.
Manusia menapaki tanah kusam, menengadah memberi salam kepada hari. Matari menyembul bersama siratan sinar nan hangat. Keringat kusam nan lengket memberi tahu, bagaiman laju manusia ‘ajeg’. Ia termenung di ruangan pepat dan lekat dikejar waktu tenggat. Begitu seterusnya, dari tanggal satu sampai tiga satu. Menanti sejumput materi untuk memaknai hidup.
Ada yang menarik dari Alan Lightman saat memaknai waktu. Adalah waktu mekanis dan biologis. Keberadaannya bukanlah dikotomi, melainkan dua dalam satu. Mekanis dan biologis itu ada di sela-sela waktu yang bertalu.
Kita menilik jam untuk mengetahui waktu. Tubuh acap kali dikesampingkan saat menilik waktu. Yang ada pertunjukkan jarum jam yang bergerak ke arah kanan, kemudian kita tergopoh-gopoh, bahkan beberapa menyesal telah menelantarkan waktu bersama keinginannya sesaat yang fana.
Waktu biologislah yang sering tidak disadari oleh para penilknya. Saat berjumpa dengan malam tahun baru, sering mencuat pengharapan untuk waktu-waktu mendatang. Kegelisahan kemudian berbisik membayang-bayangi saat letupan terakhir kembang api redup hilang ditelan malam yang gelap gulita.
Dari Alan Lightman, kita mengetahui setitik maksud waktu yang relativ. Ia tak dapat dicemooh ataupun diukur dengan penuh prasangka. Kita yang menghadapi waktu punya sejenis kisah yang tak dapat dirasakan, dilakukan oleh yang liyan secara bersamaan. Syahdan, saat gejala resah di awal tahun tiba-tiba muncul, kita ingin memepatkan yang mekanis dan biologis di satu rel bernama makna.
Penetapan waktu dalam satu tahun menjadi dua belas, punya sejarah panjang di dalamnya. Mulanya satu tahun berjumlah tiga belas bulan. Awal tahun baru di bulan Maret. Di akhir tahun ada Marcedonius.
Bulan-bulan dipilih dari nama para dewa. Itu dilakukan untuk mengikat waktu, mengaitkan peribadatan disesuaikan dengan sikap para dewa. Waktu itu bangsa Romawi yang membikin pertanggalan untuk menentukan waktu.
Manusia ingin menghitung saat tubuhnya bertalu dengan sang waktu. Di Mesir, Babilonia, Maya/Aztec, Cina, India, Persia sebagian besar menilik matahari untuk menentukan waktu, beberapa menggandeng bulan.
Bangsa Rum kemudian membikin sebuah pertanggalan yang namanya mengambil nama para dewa mereka. Martius, Aprilis, Maius, Junis, Quintilis, Sextilis, September, Oktober, November, December, Januarius, Februarius, dan Marcedonius.
Penentuan waktu menyiratkan gejolak. Pada abad ke-16, Nicholas Copernicus mengoreksi perhitungan kalender. Sarjana asal Polandia itu, mengoreksi pembikinan waktu oleh Paus Gregorius yang dinamakan kalender Gregorian itu, mengalami keterlambatan selama sepuluh hari dari posisi matahari yang sebenarnya. Sebelum Copernicus, beberapa tokoh lainnya di awal abad pertengahan, Francis Bacon turut pula mengoreksi.
Syahdan, untuk mengatasi keterlambatan itu, pada Oktober 1582, sepuluh hari dihapus dalam pertanggalan. Pada 4-14 Oktober 1582. Padahal di waktu itu, beberapa peristiwa besar berlangsung di dunia timur. Pada 8 Rajab misalnya, yang bertepatan pada 08 Oktober 1582. Mafhum Umar Khayam yang berada di Samarkand turut pula mengoreksi kalender Greogrian itu. Di samping menghapus sepuluh hari, Copernicus turut pula mengoreksi tahun kabisat, yang mulanya berlangsung tiga tahun sekali, berubah menjadi empat tahun sekali, untuk menyesuaikan dengan laju peredaran matahari.
Hingga kini kita memakai kalender Grogorian. Koreksi Copernicus setelah mengoreksinya, disepakati oleh Katolik Roma di Eropa dan beberapa negara Katolik lainnya. Inggris baru menggunakan kalender Grogorian (Paus Gregorius XIII) pada 1752, dengan menambahkan 11 hari, di mana pada tanggal 2 Oktober 1582 langsung disusul menjadi tanggal 14.
Kemudian Jepang baru menggunakan penanggalan Greogrian pada 1893, meskipun harus menyelipkan 660 dalam pertanggalannya, China pada 1912, Yunani pada 1924, Turki 1927, dan Rusia pada 1918 setelah revolusi orang-orang Bolsheviks.
Ada hal yang menarik dari perubahan penggunaan pertanggalan. Tanggal-tanggal terselip di atas surat, menandakan waktu penulis, di mana dan kapan. Leo Tolstoy dan Mahatma Gandhi sempat bertukar surat mengabarkan tentang diri mereka masing-masing.
Gandhi waktu itu berkirim surat dari London yang telah menerima pertanggalan Greogorian sejak 1752, sedangkan Rusia baru menerimanya dua setengah abad kemudian. Pada 1 Oktober 1909, Gandhi mengirimkan surat kepada Tolstoy yang tinggal di Rusia.
Menariknya, Tolstoy penulis cum filsuf, beken asal Rusia itu menyiratkan tanggal yang terpaut tiga belas hari saat surat menghadap ke Gandhi. Situasi ini, nampaknya untuk kembali mengingat Alan Lightman, di mana waktu yang berjumpa memiliki pertautan berbeda bagi setiap orang.
Gandhi berada pada tanggal di mana tiga belas hari lebih cepat dibandingkan Gandhi. Meski demikian, Tolstoy tak menggap dirinya dibelakangi oleh Gandhi. Mereka terikat oleh perasaan baik bahagia, mencekam saat membaca bait demi bait sang surat. Waktu Biologis menyisip di sela-sela gemerisik kertas surat.
Mafhum, tak ada cara lain untuk menghadapi waktu dengan segala kehendak dan keinginan. Kita berharap menangkis ketaksaan dan kesia-siaan. Waktu bertalu, kita menghadapi hidup yang terus menderu, selamat tahun baru.
