Boyolali, Rambak.co — Di sebuah senja yang syahdu di sudut Karanggeneng, Boyolali, bertempat di Pasionaon Cafe, telah berlangsung sebuah acara penuh nuansa jiwa dan rasa, bertajuk Juni Berpuisi. Komunitas Boyolali Book Club (BBC) menyelenggarakan kegiatan ini. Acara ini mempertemukan para pencinta kata dan penggubah puisi dalam sebuah perhelatan yang sederhana namun sarat makna.
Acara ini bukan sekadar seremoni, melainkan wujud penghormatan terhadap karya dan kenangan para penyair besar Indonesia, terkhusus kepada almarhum Sapardi Djoko Damono, sang maestro puisi yang mewarnai bulan Juni dengan kenangan hujan dan harapan.
Sejak mentari condong ke barat hingga malam menyelimuti, para peserta — baik dari kalangan anggota BBC maupun masyarakat umum — larut dalam pembacaan puisi yang membangkitkan rasa. Tersaji puisi-puisi termasyhur seperti “Aku Ingin” karya Sapardi yang dibalut musikalisasi nan lembut, “Perjalanan Kubur” gubahan Sutardji Calzoum Bachri yang menghentak sukma, hingga “Kamus Kecil” dari Joko Pinurbo yang dibacakan penuh emosi oleh penyair muda berbakat.
Tak berhenti pada lantunan sajak, acara ini turut menampilkan bincang-bincang sastra yang memperkaya sukma dan akal. Fenomena musik puisi sebagai jembatan antara bunyi dan makna masuk pula dalam diskusi. Salah satu yang mencuat dalam diskusi ialah karya “Yang Berhasrat Meminangmu, Kekasihku” oleh penyair asal Semarang, Arif Fitra Kurniawan, yang telah digubah menjadi nyanyian oleh kelompok Swaranabya.
Tiba pada puncak acara, hadirin disuguhi kisah perjalanan panjang dari sastrawan Ibnu Wahyudi, atau akrab disapa Iben. Sosok yang pernah mendampingi Sapardi semasa kuliah di Universitas Indonesia ini, meluncurkan karya puisinya yang ke-25 bertajuk Sampai Menutup Kata. Dalam pengakuannya, sejak 2016, Iben menjadikan menulis puisi harian sebagai bentuk permenungan, hingga terkumpul ribuan bait dalam dekade terakhir.
Namun yang paling menyita perhatian adalah penjelasan Iben soal puisi “Aku Ingin” yang kerap jadi sampul undangan pernikahan. “Itu sebenarnya berbahaya,” ujar Iben sembari terkekeh. “Sebab puisi itu bicara tentang ‘keinginan’ yang belum sampai, belum sempat. Maka, menjadikannya sebagai simbol ikatan malah bisa menyesatkan tafsir.”
Puisi itu Kebebasan
Dengan tutur yang bersahaja, Iben menekankan bahwa setiap insan bebas memaknai puisi, selama membawa kebermanfaatan bagi pembaca. Ia pun mengulas perubahan zaman. Ketika Juni yang dahulu lekat dengan kering kini kerap basah karena hujan, membuktikan bahwa makna senantiasa hidup dan berkembang.
Ketua BBC, Nimatul Faizah, menyebut Juni Berpuisi sebagai peristiwa perdana dalam sejarah komunitas mereka. Sebuah ikhtiar menghadirkan variasi dalam gerakan literasi. “Kami ingin suasana baru di luar kegiatan rutin baca buku bareng. Ini juga ajakan bagi masyarakat Boyolali untuk lebih akrab dengan dunia sastra,” tutur Nimatul, yang memimpin komunitas ini sejak terbentuk Desember 2024.
BBC acap kali kita mengetahuinya sebagai komunitas inklusif, membuka ruang bagi siapa pun dari pelajar sekolah dasar hingga kaum dewasa. Dengan kegiatan mingguan membaca buku bersama dan diskusi ringan, komunitas ini menjadi cahaya kecil yang menyinari sudut-sudut Boyolali dengan obor pengetahuan.
Akhirnya, dari secangkir kopi dan lantunan puisi, lahirlah harapan baru. Bahwa di tengah zaman serba cepat ini, masih ada mereka yang sudi duduk, merenung, dan menuliskan kata-kata. Kata-kata yang tak sekadar indah, tetapi membawa makna. Dan di Boyolali, malam itu, makna hadir dalam bentuk puisi.
