Angin bulan April memang terik, namun anehnya hatiku terasa sejuk. Barangkali sebab aku sudah kepalang senang membayangkan akan segera bertemu denganmu.
Dan, di sinilah aku sekarang. Di hadapanmu, menaburkan mawar, kantil, dan kenanga. Tanah yang dulu menutup tubuhmu telah tertutup kerikil putih dan ornamen rumput hijau kesukaanmu. Tentu aku mendoakanmu, dan aku percaya kamu pasti baik-baik di sana. Tapi rasanya kamu tak perlu mengharapkan agar aku baik-baik saja di sini. Sejak kepergianmu, aku meralat cita-citaku untuk hidup seribu tahun lagi.
Ah, iya, aku tidak membawa semur daging itu, tapi aku yakin kamu pasti tahu aku memasaknya untukmu hari ini. Aku yakin kamu juga tahu, aku sudah memasaknya dengan benar seperti yang kamu ajarkan. Bahkan kamu tahu? Tadi, sebelum ke sini, aku membuka akun Facebookmu. Aku memencet tanda love pada foto semur yang kuposting untukmu.
Aku lancang, ya? Padahal aku tahu, tanpa itu pun kamu pasti akan menyukai semur daging buatanku. Namun, sungguh, aku bahagia mendapatkan tanda love darimu, setidaknya aku tahu, sampai saat ini kamu tak pernah benar-benar meninggalkanku. Selamat ulang tahun pernikahan, Sayang. Aku mencintaimu.
Jakarta, November 2022-Maret 2026
