Rahasia Semangkuk Semur Daging

Subuh baru saja luruh ketika mimpi-mimpi mulai pungkas. Tak ada yang boleh terlewat di hari ini. Jauh-jauh hari aku telah menyiapkan semuanya. Daging has dalam kualitas terbaik sudah tersimpan aman di lemari pendingin sejak empat hari lalu. Dan pagi ini aku keluarkan mereka, tergeletak rapi di meja dapur. Daging yang konon dihasilkan dari sapi-sapi paling bahagia di New Zealand itu telah siap menerima bumbu.

Avatar photo
Oleh Fenty Febrianti
6 April 2026, 12:25 WIB

Dan begitulah. Meski dengan hati yang mendongkol, aku tetap menuruti saranmu. Aku memang harus mengakui bahwa kamu memang lebih mumpuni soal masak-memasak ketimbang aku. Dan hari ini kumemarkan potongan-potongan daging itu dengan hati yang gembira. Alat kesayanganmu itu ternyata tersimpan rapi di laci dapur. Suara duk-duk saat gerigi palu menghantam lembut permukaan daging seolah menjadi backsound bagi kemunculan bayanganmu.

Kubalurkan bumbu-bumbu uleg dengan sempurna di permukaannya. Paduan aroma bawang putih dan ketumbar menguar. Harum.

Jarum jam merangkak menuju pukul sembilan, dan matahari sudah semakin matang. Sinarnya menjelajah sampai ke bagian selatan rumah. Pucuk-pucuk daun salam yang menjuntai, berkilauan tertimpa matahari. Kupetik dua lembar, lalu kuhirup wanginya. Jemariku sibuk menyiapkan ubo rampe bumbu halus dan bumbu kasar yang akan dimasukkan ke dalam penggorengan. Aku ingin masakan ini siap sebelum tengah hari.

“Ini seperti menyiapkan sesuatu yang sakral. Kau harus memperlakukan bumbu-bumbu itu dengan lemah lembut dan membujuknya agar mengeluarkan sifat terbaiknya. Kemiri dan ketumbar harus kau sangrai dulu agar rasa gurih dan wanginya lebih keluar,” ucapmu ketika melihatku kerap grusa-grusu ketika memasak. Sebagai penganut paham kepraktisan, tentu aku tak sepakat dengan idemu. Menurutku kamu terlampau bertele-tele hanya untuk urusan memasak.

“Kalau bisa cepat, kenapa mesti lambat?!” Setidaknya begitu prinsipku.

“Memasak juga media yang bagus untuk belajar sabar” ucapmu kalem sambil menjawil ujung hidungku.

Touche!” Kalau sudah begitu mana bisa aku tidak terbahak. Kuakui kamu memang paling bisa menyindirku dengan cara paling lembut, sehingga aku tak mungkin bisa melanjutkan argumentasiku.

Pada akhirnya aku melakukan semua saranmu, dari soal daging yang dipukul hingga bumbu yang harus disangrai terlebih dulu itu. Tentu sambil tersenyum-senyum kecil mengingat betapa keras kepalanya aku dan betapa tahannya dirimu terhadapku yang nyaris tak berubah selama dua puluh tahun kita hidup bersama.

Tapi sekali waktu kamu juga pernah tak tahan atas diriku. Kamu menggugat kelakuanku yang terlalu acuh terhadap usahamu demi menjaga kembang-kembang cinta di antara kita.

“Ayolah, itu kan hanya sosial media? Lagipula aku juga jarang main Facebook, kan? Dan kalaupun aku tak merespon tautanmu pada akunku, bukan berarti aku tak cinta, bukan?” Sanggahku panjang dan lebar.  Aku menarik kursi mendekat ke kursimu agar aku yakin kamu menangkap penjelasanku.

Tapi semuanya berubah sejak tiga tahun lalu. Tiga tahun yang melelahkan. Tiga tahun yang membuat bobot tubuh kita susut berkilo-kilo gram. Tiga tahun yang membuat rambutmu rontok dan gigi geligimu menguning rapuh tergerus obat. Sedang aku? Tentu makin keriput dihajar lelah dan usia, untungnya pipi dan hidungku yang bulat kerap membuat orang menilai aku humoris dan bahagia belaka. Tapi lihatlah, nyatanya kita bisa melaluinya lebih dari sekadar baik-baik saja, bukan?

Bahkan, aku semakin menyadari betapa aku mencintaimu. Tak peduli bagaimanapun kondisimu. Aku yang tak suka sosial media, akhirnya mulai meniru kebiasaanmu menautkan akunmu pada postinganku sebagaimana kamu selalu melakukan itu pada akunku. Pun aku juga kerap memberikan tanda love yang paling pertama pada setiap postinganmu.

Aku hanya marah kepadamu saat kamu memintaku untuk meninggalkanmu atau setidaknya memindahkanmu ke panti mana pun agar aku—istrimu ini—tak lagi kerepotan mengurus manusia dengan ginjal satu semacam dirimu.

“Permintaan macam apa itu?!” rutukku gusar. Tapi hanya itu yang keluar dari mulutku. Bibirku bergetar, tapi tak ada kata-kata yang keluar. Kualihkan pandangku pada teralis rumah sakit yang pucat dan membosankan.  Tidakkah kamu tahu, terkadang aku juga tidak selalu bisa menahan air mata? Sedang kau dan aku telah sepakat bahwa kita tak pernah suka air mata[1]?

Dan pagi ini aku kembali gagal. Mataku basah. Entah sebab teringat peristiwa itu, atau ulah folatil sulfur yang menguar dari delapan siung bawang merah yang telah lumat di ulegan batu.

Bumbu halus, pala, cengkih, daun salam, kayu manis serta kecap manis sudah berbaris rapi di samping kompor. Serupa prajurit mereka menunggu giliran untuk bertempur. Satu persatu kumasukkan mereka ke wajan dengan cermat.

“Kamu harus tahu kapan bumbu-bumbu itu siap menerima bumbu lain,” Aku ingat kata-katamu menyebalkan itu.  “Biarkan mereka saling berkelindan menautkan rasa dan aroma menjadi kelezatan.” Suaramu semakin menyebalkan. Tapi anehnya aku mengikutimu, meski dengan hati menggerutu. Lambat laun, aku mengikuti cara masakmu yang dulu kuanggap aneh. Bahkan, tahukah kamu? Belakangan aku mengajak berbincang bahan-bahan yang kusiapkan agar mereka ikhlas menjadi masakan. Aku tahu kamu pasti terbahak jika melihatku melakukan hal yang dulu mati-matian kucemooh itu. Tapi tak apalah, kali ini aku mengalah untuk kamu tertawakan.

Menjelang tengah hari, udara semakin gerah. Panas matahari berebutan dengan ruap wangi dari bumbu dan daging yang telah matang. Sekenanya aku mengelap dahi, mencuci tangan dan merapikan dapur yang kembali sepi. Tanganku meraih laptop, menekan tombol daya, dan memeriksa pesan whatsapp. Tapi mataku justru terikat pada playlist lagu kesukaanmu. Kutekan tombol play dan mengalunlah Puan Kelana dari duo Silampukau yang makin menebalkan ingatanku tentangmu. Kamu yang kerap mencuri waktu untuk rehat di sela tenggat pekerjaan lalu jatuh tertidur dengan kacamata melorot pada kursi kayu di teras depan rumah. Ah, sungguh aku merindukan pemandangan itu.

Tapi, sungguh aku menyesalkan keras kepalamu yang ternyata melebihi kepala batuku. Bagaimana tidak, kamu baru saja mendapat remisi dari dokter sebagai penyintas gagal ginjal, tapi kamu tetap memutuskan kembali terlibat dengan banyak kegiatan, memberi jalan bagi banyak orang, menyemangati mereka yang hampir pupus harapan. Kerja-kerja yang sebenarnya telah kamu ampu sejak puluhan tahun lalu, bahkan sebelum hidup bersamaku. Tidak cukupkah itu?

“Ini bukan soal aku membantu mereka, sama sekali tidak. Tapi ini soal aku yang butuh untuk merasa bahagia,” jawaban yang membuat hatiku mengembun basah dan seperti yang sudah-sudah, aku tak sanggup mencegah kamu melangkahmu barang sejengkal pun. Bagaimanapun aku hanya ingin kamu merasa bahagia. Itu saja.

Enam puluh menit menjelang tengah hari semur daging itu telah matang. Wajahnya berkilau mlekoh di atas wajan. Aromanya? Jangan ditanya. Gurih, manis, dan meruap sampai sudut rumah. Aku yakin siapa pun yang mengendusnya akan menanggung perihnya didera rasa lapar.

Mangkuk putih bergambar ayam jago telah kusiapkan. Kamu pasti ingat, ini mangkuk yang kita cari sampai sudut pasar Godean. Aku memindahkan semur yang masih diselimuti asap ke dalam mangkuk yang sering kamu pilih sebagai wadah sajian itu. Wajahnya mlekoh, aroma gurih dan manisnya menjalar hingga setiap sudut rumah seakan menelan ludah. Kutata secantik mungkin di atas meja kayu tempat kamu biasa meletakkan buku, setelah berjam-jam kamu baca. Kupotret dari sudut paling menarik, lalu  kuposting di Facebook. Tentu dengan menautkan akunmu pada postingan ini, Dan aku yakin beberapa jam lagi, kamu akan membalasnya dengan tanda love yang sudah sangat aku tunggu-tunggu.

[1] Sebuah lirik dari Silampukau yang berjudul Puan Kelana

Artikel Terkait