Kisah Yap Thiam Hien Sang Pendiri Peradin

Oleh Rulfo
30 Mei 2026, 09:49 WIB

Marginal dalam lagu Hukum Rimba adalah perenungan terhadap situasi hukum di republik kita. Keberadaannya yang kadang rabun itu, membikin siapapun bergidik bila berhadapan dengan hukum. Tak dinaya letupan suara protes tak terbendung meluncur dengan bebas terhadap proses peradilan kita.

Berkutat dengan hukum, kita mengingat Peradin, sebuah perkumpulan para advokat. Perkumpulan itu bukan sembarang berkumpul. Ada misi penting yang dibawa membawa panji Peradin. Salah satu slogan fenomenalnya ialah Fiat Justitia Ruat Coelum, menetapkan peradin sebagai perkumpulan advokat tertua di Indonesia.

Peradin didirikan pada 30 Agustus 1964 bertepat di Hotel Dana, Surakarta, Jawa Tengah. Kini usianya menginjak enam puluh dua tahun. Peradin yang menjadi saksi dalam peradilan di Indonesia mencetak beberapa tokoh yang tak lekang oleh sang waktu.

Adalah Yap Thiam Hien. Ia lahir dari keluarga kaya yang sempat digulung bangkrut. Lahir di Aceh, 25 Mei 1913, Yap muda merasakan apa yang dirasa oleh orang-orang pinggiran. Ia sempat mendapatkan bantuan pendanaan dari Hindia Belanda karena status keluarganya yang anggota Kong Doan (Dewan Tionghoa). Sebuah buku membeberkan Yap Thiam Hien. Buku itu hasil reportase Tempo (2013) guna memperingati seabad Yap Thiam Hien.

Kakek Yap adalah Yap Joen Khoy sempat menyandang wijkmasteer-pangkat jabatan setara dengan rukun warga. Pengaruh keluarganya itu, membawa Yap untuk menapaki jalan hidupnya yang belum pernah terkirakan. Adalah menjadi seorang pembela kebenaran sebagai advokat.

Yap pindah dari Aceh ke Batavia. Perpindahannya beribu kilometer dari tempat kelahirannya dikarenakan kondisi perekomian keluar Yap yang sempat diganjal permasalahan ekonomi. Hal ini disebabkan oleh kebijakan Hindia Belanda untuk mulai memangkas dominasi hak lokal orang Tionghoa dalam monopoli perdagangan Opium, rumah potong, dan judi.

Pada mulanya adalah keputusan untuk memilik jurusan Bahasa. Pada 1926, Yap melanjutkan sekolahnya di MULO Batavia. Keputusan untuk ke Batavia karena ingin menyusul ayahnya yang bekerja sebagai anggota staf penjualan Perusahaan di Batavia.

Yap dikenal sebagai seorang yang tekun. Bu Chin Min alias Budi Bunyamin yang merupakan keponakan Yap mendengarkan cerita ayahnya. Kata Ayahnya, Yap selalu lekat dengan buku. Yap menguasai bahasa Belanda dengan baik. Saat ia belajar di Europeesche League School (ELS) Kutaraja -Aceh, Yap tak pernah kesulitan dalam mengikuti tiap pelajarannya, meskipun menggunakan bahasa pengantar Belanda.

Saat melanjutkan studi di AMS (Algemeene Middelbare School) -Sekolah Menengah Atas (SMA), Yap memilih jurusan sastra Barat di Bandung, Jawa Barat. Kemudian ia melanjutkan studi di Yogyakarta. Yap menguasai empat bahasa asing. Kemampuan berbahasa itu, membikin Yap membuka ruang untuk merubah takdirnya. Adalah melanjutkan studi di Leijden Belanda jurusan hukum.

Artikel Terkait