Kisah Yap Thiam Hien Sang Pendiri Peradin

Oleh Rulfo
30 Mei 2026, 09:49 WIB

Keputusan Tepat Seorang Kakek

Pada akhir abad ke 19, kebijakan Gelijkstelling dibuat untuk menyetarakan status antara orang Tionghoa dan Belanda. Ayah Yap adalah Yap Sing Eng salah satu dari ribuan etnis Tinghoa yang merasakan kebijakan itu. Pada medio 1918 Yap mendaftarkan ketiga anaknya: Yap Thiam Hien, Yap Thiam Bong, dan Yap Thiam Lian. Sebuah lembaran resmi dalam Staatblad van Nedelansch-Indie 1918 Nomor 49 mengubar nasib Yap.

Keputusan visioner ayahnya, membawa ketiga Yap bersaudara dapat mencecap pendidikan tinggi di Eropa. Sebelum melanjutkan studi di Hindia Belanda, Yap telah merasakan jenjang pendidikan penting. Di Jawa ia berjumpa seorang misionaris baik hati -Hermaan Jopp dan Nell O’Brein. Ia punya indekos. Tinggal Yap Thiam Hien di Indekos saat melanjutkan studi di AMS A Yogyarkarta.

Senandung lagu religi dan pujian gerajawi membawa Yap masuk Kristen di usia 25 tahun. Perjumpaan dengan misonaris itu membawa Yap mengenal tentang konsep ke kristenan. Keputusan Yap untuk masuk Kristen saat tamat dari AMS A pada 1933, saat ia pindah ke Batavia.

Pada momen tersebut, Yap mendapatkan banyak pengalaman penting sebagai pengajar. Ia mengajar di beberapa sekolah Tionghoa yang berada di Cirebon, Rembang, dan Jakarta. Daniel S. Lev merekamnya aktivitas mengajarnya dalam buku No Concessions: The Life of Yap Thiam Hien.

Sebuah sekolah didirikan oleh kelompok keturunan Tionghoa. Sekolah itu untuk mewadahi keturuan Tionghoa mendapatkan pendidikan yang memadai, meskipun Hindia Belanda tidak mengakui sekolah milik keturunan Tionghoa. Kendati demikian, para keturunan Tinghoa yang beruntung secara ekonomi, mereka akan menyisihkan kekayaan mereka untuk mendirikan sekolah formal ataupun informal –wild school (baca: Sekolah Liar).

Kesadaran tentang hak asasi manusia mencuat saat Yap berjumpa dengan derita penindasan. Saat ia mengajar dengan gaji yang kurang begitu mencukupi ditambah anak-anak yang seharusnya mencecap pendidikan namun tak terwadahi, membuat batinnya berkecamuk. Sebuah sumpah serapah dan tekad kuat muncul sebelum ia melanjutkan studi ke Leiden. Yap tak menginginkan derita itu menghinggapi manusia. Ia merasa tiap manusia memiliki hak yang sama tanpa ada pembeda.

Artikel Terkait