Tak Ada Fisika Kuantum di Hari Ini: Obituari Prof. Soeparmi, Guru Besar Ilmu Fisika Kuantum Universitas Sebelas Maret (1952–2026)

Ia adalah tipe dosen yang amat ketat terhadap matematika, sebagai sebuah bahasa yang sangat fundamental bagi fisika. Tanpa matematika, fisika tak cukup berbuat banyak. Cara itu tentu sebagaimana pencapaian yang dilewati tokoh macam Issac Newton, Charles Coulomb, James Clerk Maxwell, Nicolas Léonard Sadi Carnot, Max Planck, hingga Albert Einstein.

Oleh Joko Priyono
19 Maret 2026, 22:19 WIB

Soal paling penting/ Di dalam kehidupan/ Ialah kematian// Kehidupan mengurus kematian/ Agar setiap kematian adalah kehidupan/ Agar kehidupan bukan kematian// (Emha Ainun Nadjib, “Syair Kematian Kehidupan”, 1983)

Saya amat yakin bahwa kiranya telah ada ribuan manusia, khususnya yang pernah belajar di program studi fisika maupun pendidikan fisika Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) mendapati kasih sayang pengajaran dari sosok bernama Prof. Soeparmi. Mereka yang pernah menjadi mahasiswa dalam program studi tersebut tentu pula akan memiliki banyak definisi pada sosok yang dikenal pada keahliannya di bidang fisika kuantum tersebut.

Demikianlah, Prof. Soeparmi. Seingat saya sebagai mahasiswa program studi fisika UNS angkatan 2014 adalah sosok yang memilih berpenampilan sederhana. Ia biasa membawa tas cangklong yang berisi tumpukan buku teks yang digunakan untuk mengajar. Meski begitu, saat jalan tergopoh-gopoh menuju ke kelas, ia terlihat bagai seorang ibu yang baru selesai belanja di pasar.

Saya merasa beruntung sejak semester satu telah bisa bertemu dengannya, tepatnya pada mata kuliah Fisika Dasar 1. Melalui buku garapan dua fisikawan terkemuka Amerika Serikat, Raymond A. Serway dan John W. Jewett, Jr yang digunakan sebagai bahan pembelajaran. Para mahasiswa agak beruntung karena buku itu telah lama diterjemahkan ke bahasa Indonesia berjudul Fisika untuk Sains dan Teknik (Salemba Teknika, 2010).

Bagi kami para mahasiswa, itu adalah kitab suci pada jenjang mendasar untuk menyambut jalan pencerahan ke-fisika-an. Walaupun begitu, karena mahasiswa itu memilih “cap kere”, lazimnya kami secara kolektif untuk memfoto kopi. Alasan yang lebih rasional adalah buku itu jika menginginkan aslinya, perlu merogoh uang ratusan ribu.

Menyambung ke mata kuliah Fisika Dasar II (semester 2), buku itu mesti dikhatamkan. Dari fisika klasik hingga fisika modern. Dari babak mekanika, osilasi dan gelombang mekanik, termodinamika, listrik dan magnetisme, cahaya dan optika, hingga fisika modern. Saya masih ingat, cara berpikir saya ketika belajar saat itu sangat salah. Saya masih terbawa pada mekanisme hafalan yang telah berbiak semasa sekolah menengah atas. Apa yang saya pahami dari cara pengajaran Prof. Parmi kemudian merombak itu semua.

Ia adalah tipe dosen yang amat ketat terhadap matematika, sebagai sebuah bahasa yang sangat fundamental bagi fisika. Tanpa matematika, fisika tak cukup berbuat banyak. Cara itu tentu sebagaimana pencapaian yang dilewati tokoh macam Issac Newton, Charles Coulomb, James Clerk Maxwell, Nicolas Léonard Sadi Carnot, Max Planck, hingga Albert Einstein.

Prof. Parmi selalu menegaskan arti dari matematika dalam fisika dengan upaya untuk mahasiswa agar terus berlatih di dalam menguraikan atau “mblejeti”. Ini tak lain untuk melakukan pendefinisian secara detail, hingga menghasilkan sebuah persamaan akhir. Cara ini tentu amat mengguncang pada kebiasaan sebatas menghafalkan persamaan akhir macam yang terjadi di sekolah menengah.

Saya mendapati “gangguan keimanan” dalam keterhubungan antara fisika dan matematika yang dahsyat dalam perjalanan itu. Itu kemudian membuat saya mendiagnosis pada diri saya, bahwa saya terlalu nyaman pada jebakan hafalan. Saya mengalami kesulitan dalam perkara matematika dan dapat dibilang pernah berada pada situasi “kafir matematika”. Meski begitu, saya berbenah, perlahan belajar untuk mengakrabi matematika.

Barangkali pelajaran penting itulah yang kemudian di sebuah masa, saya berangan-angan untuk merencanakan tugas akhir dengan mengambil fisika kuantum. Hal itu dilandasi bahwa memang selain sedikit yang meminati dalam penjurusan, saya agaknya terpengaruh atas persentuhan terhadap buku-buku garapan dari Stephen Hawking, Carl Sagan, Carlo Rovelli, dan Neil deGrasse Tyson. Meski begitu, saya tetap terbayang betapa sulitnya matematika.

Saya kerap mendapati gejolak dalam proses berkuliah itu. Pada semester enam, di sebuah mata kuliah, tepatnya filsafat ilmu, Prof. Parmi mengampunya. Di perkuliahan itu, ia menggunakan buku Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Sinar Harapan, 1995) garapan Jujun S. Suriasumantri itu. Mata kuliah filsafat ilmu ini adalah mata kuliah pilihan, dengan kata lain tidak wajib.

Saya memilih ambil mata kuliah itu tentu dengan harap dapat banyak belajar filsafat, alih-alih agar bisa membongkar ungkapan Hawking, “filsafat telah mati” di bukunya The Grand Design (2010). Selain itu, keinginan saya terhadap filsafat tinggi seiring pula pada sejarah sains. Ini menjadi jalan yang kemudian banyak menbentuk saya: kekafiran saya pada matematika, mengantarkan saya terhadap sains populer.

Di sebuah pertemuan dalam kuliah filsafat ilmu, Prof. Parmi mengungkapkan analogi, “physics is hard knowledge”. Pernyataan itu yang harus diakui membesitkan kecurigaan saya pada suasana kuliah, bahwa filsafat ilmu kok tidak membahas filsafatnya. Dominannya masih bahas fisika. Prof. Parmi kemudian mengucapkan, “ini belajar fisika, butuh kerja keras yang lebih, tidak seperti mempelajari sejarah.”

Pernyataan itu sangat menganggu saya. Walhasil, saya kemudian menjadikan hal tersebut ke dalam sebuab esai, yang saya kirimkan ke Harian Solopos dan dimuat dalam rubrik “Mimbar Mahasiswa” edisi 7 Maret 2017 berjudul “Paradoks Fisika dengan Sejarahnya”. Entah apakah tulisan itu terbaca atau tidak di kalangan dosen fisika, yang penting saya mengajukan bahwa betapa menjadi masalah saat fisika tak diajari dalam aspek kesejarahan.

Kuliah demi kuliah terjadi. Yang mudah berkesan tentu saja adalah mata kuliah fisika kuantum. Saban hadir di kelas, Prof. Parmi tak bisa lepas dari papan tulis dan spidol. Ia begitu mahir menguraikan persamaan demi persamaan di dalam teori fisika kuantum. Banyak mahasiswa yang ikut di kelasnya dibuat terpukau dan dengan sendirinya meyakini keindahan dari fisika itu sendiri.

Meski demikian, minat saya untuk menjadikan fisika kuantum sebagai tugas akhir makin memudar. Hal itu beriringan dengan hasrat saya untuk membawa sepak bola pada aspek fisika. Benar saja, meski tertatih-tatih sampai empat belas semester, saya akhirnya menyelesaikan skripsi. Prof. Parmi menjadi pembimbing kedua. Sementara pembimbing pertamanya adalah Prof. Cari, yang tiada lain adalah suami darinya.

Titik temu tema skripsi pada mereka adalah pembidangan fisika teori. Saya melakukan kajian secara teoretis dan disertai simulasi pemrograman terhadap fenomena tendangan jarak jauh macam yang pernah dilakukan Roberto Carlos, Ronaldinho, David Bechkam, Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, dan lain sebagainya. Judul awal skripsi yang bertahan hingga diujikan itu berupa “Kajian Fisika pada Olahraga Sepak Bola”.

Dalam proses pengerjaan skripsi itu, saya amat senang ketika bisa melaporkan perkembangan kepada keduanya. Sering dingatkan oleh Prof. Parmi saat saya menemuinya adalah tentang bahasa matematika. Ia amat menekankan bahwa yang terpenting dari fisika itu ya matematika sebagai sebuah bahasa. Ia pula yang meminta saya ketika selesai ujian, untuk merevisi judul skripsi menjadi “Kajian Mekanika pada Olahraga Sepak Bola” setelah berucap, “Selamat ya Mas Joko, sudah lulus”.

Saya sadar, sebagai mahasiswa yang “awur-awur”-an dan “yak-yak”-an dalam jalan yang ditempuh, menjumpai banyak gejolak. Tak kecuali pada dosen, yang kemudian memberanikan saya mengkritik lewat tulisan. Termasuk di dalam proses itu pernah terjadi pada Prof. Parmi. Setelah saya tilik kembali, saya pun menyadari, bahwa proses itu yang harus disadari terus terkenang dan mendorong saya untuk senantiasa belajar.

Tentu saja, saya sangat berterima kasih pada Prof. Parmi. Sebagai orang yang pernah diajar dan bahkan dibimbing, saya mendapati pelajaran yang begitu berharga dalam keilmuan. Bahwa memang untuk memahaminya kadang butuh kenekatan. Itu sebentuk prinsip sebagaimana hidup, tentang konsekuensi. Kita tidak boleh takut salah. Setiap apa yang kita lakukan kitanya adalah akumulasi untuk terus menuju kebaikan.

Terima kasih, Prof. Parmi. Selamat jalan.

Artikel Terkait