Kota dan Pendidikan

Saya dan bersama teman-teman tentu saja menjawab, kalau keinginan ada. Akan tetapi, ada masalah yang mendesak, sebagaimana diungkapkan saya dan beberapa teman, bahwa untuk biaya itu yang menjadi masalah. Saya masih ingat saat mengajak bicara pada orang tua untuk mengutarakan keinginan lanjut kuliah pasca-SMA di awal saya menapaki kelas XII. Orang tua saya agak pesimis dan hanya mengutarakan keberatan, utamanya gambaran biaya yang perlu ditanggung. Mereka menginginkan saya langsung bekerja.

Oleh Joko Priyono
20 Januari 2026, 18:52 WIB

Saya sudah lupa tepatnya kapan bertemu dengan Irmawan Ahmad untuk pertama kalinya. Akan tetapi, saya ingat ia mengajak bertemu saya bersama beberapa teman sekolah beberapa waktu pasca Ujian Nasional Sekolah Menengah Atas di tahun 2013. Di kantin yang berlokasi samping masjid SMA N 1 Karanggede itu ia memperkenalkan diri, bahwa ia juga jebolan sekolah tersebut. Kalau tak salah ketika itu ia masih menyandang status mahasiswa di Universitas Negeri Semarang (UNNES). Tepatnya mahasiswa sangat tua, sebab kalau tak salah ia merampungkannya di semester empat belas.

Ketika itu, ia memberi kabar sekaligus melakukan ajakan akan berpikiran lanjut studi kuliah pasca-lulus SMA. Irmawan tentu sadar, bahwa sekolah kami yang sangat jauh dari pusat Kota Boyolali, pada masa itu belum atau tidak banyak siswa yang bisa melanjutkan studi. Kebanyakan, setelah selesai dari sekolah, langsung mencari pekerjaan. Irmawan mengobrol dengan kami, menanyakan apakah ada punya niatan untuk lanjut kuliah?

Saya dan bersama teman-teman tentu saja menjawab, kalau keinginan ada. Akan tetapi, ada masalah yang mendesak, sebagaimana diungkapkan saya dan beberapa teman, bahwa untuk biaya itu yang menjadi masalah. Saya masih ingat saat mengajak bicara pada orang tua untuk mengutarakan keinginan lanjut kuliah pasca-SMA di awal saya menapaki kelas XII. Orang tua saya agak pesimis dan hanya mengutarakan keberatan, utamanya gambaran biaya yang perlu ditanggung. Mereka menginginkan saya langsung bekerja.

Keluhan tentang biaya kuliah itu mendapatkan jawaban dari keterangan Irmawan. Ada beasiswa yang disediakan oleh pemerintah untuk keluarga yang tak mampu bernama Bidik Misi. Keterangan itulah yang kemudian sering saya sampaikan pada saat obrolan dengan orang tua saya. Mereka, meski masih ada bayang-bayang ketakutan perlahan mulai memberikan restu. Bahkan ketika itu saya telah menggambarkan diri untuk nama kampus: saya berkeinginan kuliah di Institut Pertanian Bogor. Entah, kesurupan macam apa yang saya alami, sebab saya menaruh cita-cita menjadi Menteri Pertanian.

Yang kemudian menjadi pertanyaan tentu saja adalah bagaimana caranya, sebab masuk perguruan tinggi menyaratkan lolos seleksi. Di sanalah Irmawan menerangkan, ada kegiatan bernama Pesantren Kilat atau Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN). Kegiatan itu dilaksanakan di beberapa kota atau kabupaten di Jawa Tengah. Tujuannya adalah mengumpulkan siswa lulusan SMA yang berniat untuk kuliah. Di sana ada serangkaian kegiatan, yang paling mendasar adalah mendapatkan fasilitas bimbingan belajar dengan ragam mata pelajaran yang diujikan di SBMPTN. Kegiatan itu berlangsung selama kurang lebih 30 hari.

Irmawan memberikan informasi, kegiatan yang ada dan terdekat dari Boyolali adalah di Kota Semarang. Saya dan teman-teman kemudian menceritakan ke masing-masing orang tua. Di beberapa hari kemudian, kami bersama Irmawan bertemu lagi untuk memastikan siapa saja yang berangkat. Akhirnya, saya bersama teman-teman saya—Galih, Hermawan, Chuzaini, Novi, Faurul, dan Rumi berangkat. Kami bergerak saat pelaksanaan tiba, bertemu di Terminal Tingkir, Kota Salatiga untuk mencari bus jurusan Kota Semarang.

Tempat pelaksanaan BPUN Kota Semarang Tahun 2013 itu di Pondok Pesantren Al-Uswah, Pakintelan, Gunungpati, Kota Semarang. Dari bus itu kami perlu berhenti di daerah Ungaran, kemudian naik angkutan jurusan Gunungpati atau UNNES. Banyak dari kami, termasuk saya ketika itu nampaknya baru pertama kali ke Kota Semarang. Saya mengalami pengalaman yang baru, khususnya imajinasi tentang kota dan pendidikan. Saya pun terbayang nama kampus IPB. Saat bangun tidur, saya spontan langsung berucap, “IPB, IPB, IPB”. Selesai salat pun saat membaca wirid, sering saya menambahkan, “IPB, IPB, IPB” sebagai doa.

Perlu diketahui, dalam proses itu berlangsung pengumuman jalur undangan yang menggunakan rapor untuk seleksi masuk kampus. Kami, meski banyak yang gagal, mendapat kabar bahagia saat Faurul dinyatakan lolos jurusan Fisika Universitas Indonesia. Di tengah perjalanan program BPUN itu, dengan menitikkan air mata, ia pamit untuk pulang ke Boyolali mengurus administrasi. Di luar Faurul, ada kabar lain yang membahagiakan, teman kami, Nila juga dinyatakan lulus jalur undangan di jurusan Sastra Belanda Universitas Indonesia juga. Memang, Faurul dan Nila itu salah dua siswa cerdas di angkatan saya. Jika teman-teman lain maksimal dapat nilai 10, mereka berdua bisa mendapatkan 13 bahkan 14.

Kami yang gagal di jalur undangan, terpaksa harus bertahan di BPUN itu untuk betul-betul menyiapkan diri guna seleksi jalur ujian. Di beberapa waktu yang berjalan, Irmawan mengunjungi dan menemui kami, menanyakan kabar dan perkembangan belajar. Sesekali saat kunjungan itu ia membawakan bingkisan berupa makanan ringan. Kedatangannya tentu memompa semangat kami untuk terus giat belajar dan menjalani serangkaian proses yang ada di sana. Meski saya sempat berbohong dengan mengatakan baik-baik saja, sebab mulai minggu ketiga, tiap malam saya mendapati gatal di beberapa bagian tubuh. Rupanya saya terkena penyakit bernama gudik pesantren atau dalam bahasa kedokterannya adalah scabies.

Akhirnya tes seleksi masuk kampus jalur ujian tiba. Saya mendapatkan tempat tes di sebuah ruangan kelas kuliah yang ada di UNNES. Sebelum berangkat dan selesainya, Irmawan senantiasa memastikan saya dan teman-teman. Itu tentu adalah bentuk tanggung jawabnya atas ajakan yang ia lakukan pada kami. Ia membangun mimpi yang lebih besar pada kami akan pendidikan, yang mungkin belum pernah mendalam sebelumnya. Pendidikan memang tidak memberi jaminan, namun ia membuka peluang yang lebih pada banyak hal.

Saat pengumuman tiba, tiap dari kami sudah berada di rumah masing-masing. Saya menuju ke warung internet yang ada di dusun saya, tepat di barat tempat saya bersekolah semasa sekolah menengah pertama, SMP N 2 Wonosegoro. Saya memasukkan nomor pendaftaran dan kode akses di laman dalam situs pengumuman itu. Hasil muncul, saya dinyatakan tidak lolos. Air mata saya berlinang, meski saya tahan, sebelum benar-benar meluap sekembalinya ke rumah. Saya gagal untuk kuliah di tahun 2013.

Teman-teman saya saling mengirim pesan singkat, SMS, untuk menanyakan tiap hasilnya. Banyak dari kami berbagi hasil kegagalan, kecuali hanya satu, yakni Novi. Ia diterima di jurusan PG PAUD Universitas Negeri Yogyakarta. Saya, Galih, Hermawan, Chuzaini, dan Rumi di ambang pilu. Saya tidak memiliki rencana untuk ambil jalur mandiri masuk kampus. Rumi berkabar, ia memutuskan untuk kerja saja dan kemudian waktu, dari kami, ia yang menikah paling awal. Hermawan yang dulu Ketua Rohis semasa sekolah memutuskan berkuliah ke Universitas Muhammadiyah Surakarta. Kalau tak salah ambil jurusan Pendidikan Akuntansi.

Saya, Galih (Ketua Osis semasa SMA), dan Chuzaini tak punya pilihan. Kami menanti takdir, dengan satu tahun ke depan bekerja terlebih dahulu dan merencanakan ikut seleksi masuk kampus di tahun depannya, 2014. Di tahun itu, akhirnya kami mendapati jalan masing-masing. Galih berkuliah di jurusan Manajemen Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Chuzaini di jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Salatiga. Sementara saya mendapat kesempatan keterima di jurusan Fisika Universitas Sebelas Maret (UNS).

Saya sudah mengira sebelumnya, Tuhan akan berkehendak untuk memberikan saya kuliah di tahun 2014. Ketika itu, agaknya Tuhan juga berlebihan. Untuk mengantisipasi kegagalan pada satu seleksi, saya ikut di dua seleksi lain, yakni seleksi di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri dan Politeknik Negeri Semarang (POLINES). Saya keterima semuanya, di jurusan Fisika UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan D4 Teknik Konstruksi Sipil Polines. Saya sebelumnya sudah membuat semacam Memorandum of Understanding (MoU) pada Tuhan, bahwa saya akan mengambil di jalur yang pengumumannya lebih awal. Keputusan itu di Fisika Universitas Sebelas Maret.

Tiap dari kami sudah berada di tiap kota masing-masing. Kami terpisah jarak, meski demikian tetap bisa berkomunikasi melalui pesan singkat maupun media sosial, ketika itu biasanya Facebook atau Twitter. Menanyakan kabar di tempat berjuang masing-masing. Termasuk juga pada Irmawan tentu saja. Meski saya gagal lolos di seleksi tahun 2013, saya sangat berhutang rasa padanya dengan mengajak saya dan teman-teman untuk ikut BPUN tersebut, yang bisa dibilang gratis. Kami paling akan membawakan beras di waktu saat keberjalanan program bisa pulang ke rumah. Beras itu diserahkan ke pihak pondok dan itu pun kembali lagi pada kami untuk makan sehari-hari.

Saya masih bercakap dengan Irmawan. Ketika lolos seleksi tahun 2014, saya memberi kabar padanya. Ia turut bang dan memotivasi saya agar semangat dalam menjalani kuliah. Rumah Irmawan berada di sebuah dusun yang ada di Desa Kedungringin, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang. Kecamatan yang langsung berbatasan dengan Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali. Dari rumah saya berjarak sekitar 4 kilometer dengan waktu tempuh kira-kira 10 menit. Beberapa kali saat lebaran, saya berkunjung ke rumahnya. Kami berbagi cerita aktivitas keseharian. Saya di Solo, ia ketika itu masih di Kota Semarang, sebelum memutuskan balik ke rumah dan bergiat di Karang Taruna.

Dalam pertemuan awal, rupanya ia juga merupakan kakak kelas saya di SMP N 2 Wonosegoro. Akan tetapi karena secara usia kami terpaut lima tahun, kami tidak pernah bertemu di sekolah. Yang mengagetkan adalah Irmawan ternyata teman sekolah adik bapak saya. Saya baru tahu, dan selama saya kuliah di Solo hingga saat ini ia sering berkunjung ke paklik saya bernama Karnoto yang rumahnya di belakang rumah saya. Dalam penuturan orang tua saya, sewaktu ke paklik saya itu ia pasti menanyakan kabar saya. Pertanyaan itu diteruskan oleh paklik saya. Baik berhubungan tentang studi saya saat kuliah belum segera selesai maupun aktivitas setelah menyelesaikan kuliah.

Irmawan adalah pendukung sejati klub sepakbola Inggris bernama Liverpool. Pada masa saya masih getol dengan sepak bola sebelum mulai hilang saat kuliah, saya sering mengejek ketika Liverpool kalah. Apalagi saat bertanding dengan klub yang saya dukung atas genetika bapak saya, Manchester United. Sejak di SMP, saya dan bapak saya memiliki kesamaan dua klub yang didukung: Manchester United dan Persija Jakarta. Irmawan pun sebaliknya, saat Manchester United mengalami kekalahan, sesekali ia mengejek saya. Ejekan itu menjadi bahan agar kami masih bisa terkoneksi, meski jauh secara jarak.

Pada tanggal 30 Desember 2025, ibu saya mengirimkan foto melalui pesan WhatsApp undangan pernikahan. Tak lain dan bukan adalah undangan pernikahan Irmawan. Ia menilah di usia menuju 35 tahun. Dan bagi saya itu adalah penantian lama darinya, untuk tidak mengatakan bahwa itu juga menjadi jawaban dari pertanyaan kapan menikah yang dialamatkan padanya. Ia menikahi istrinya yang beralamat di Dukuh Seling, dua dukuh di timur asal saya, dan masih berada di satu kelurahan. Sebelum benar-benar ada undangan, saya memang telah mendapat kabar lisan dari orang tua saya. Suatu waktu saya menanyakan padanya akan rencana menikah. Ia memberi jawab: 18 Januari 2025.

Harusnya saya menghadiri undangan itu tepat di hari Minggu sesuai tanggal yang tertera. Akan tetapi, saya gagal memenuhi undangannya. Saya tak berkesempatan untuk pulang ke Wonosegoro. Semoga Irmawan tidak memiliki prasangka bahwa hari Minggu, 18 Januari 2025, saya turut merayakan kemenangan Manchester United di Sabtu malam yang berhasil mengalahkan tetangganya, Manchester City dengan skor 2-0. Saya sudah membuat rencana untuk hadir, namun ada sesuatu hal yang menjadikan saya tak bisa memenuhi undangan.

Dari dalam lubuk hati yang terdalam, saya tentu memohon maaf pada Irmawan atas ketidakhadiran di undangan pernikahan itu. Saya tentu hanya turut mendoakan yang terbaik atas pernikahan tersebut. Semoga selalu bahagia, mulia, dan diberikan yang terbaik dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Kelak, saat punya anak, tolong jangan ragu untuk menceritakan tentang Joko Priyono. Bahwa ia bisa mengimajinasikan kota dan pendidikan tinggi, dengan tertatih-tatih hingga akhirnya dapat mengenyam kuliah salah satunya berkat kehadiran manusia bernama Irmawan Ahmad.

Artikel Terkait