Karena seks itu adalah pleasure yang murah. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung, tapi memang begitulah. Bayangkan kalau kamu ingin meredakan rasa stress yang dimiliki. Sementara kamu tidak punya banyak uang; dan bukan anak kecil lagi yang bisa keluyuran seenaknnya tanpa beban. Padahal, kamu punya terlalu banyak waktu untuk dihabiskan. Kira-kira apa pilihan yang mungkin akan diambil? Salah satu jawaban yang paling mungkin adalah “seks.”
Pilihan hiburan saat sudah dewasa bagi masyarakat menengah bawah sangat terbatas. Karena tidak punya uang yang banyak, mereka terpaksa harus memilih kesenangan yang murah dan mudah didapat. Salah satunya adalah hubungan badan atau seks. Intinya tinggal menikah saja atau melakukan hubungan sembunyi-sembunyi, asal sama-sama suka, seks mudah dilakukan.
Pernikahan muda juga bukanlah sebuah hal tabu di kalangan masyarakat menengah bawah. Banyak orang beranggapan bahwa menikah merupakan tujuan hidup setelah menyelesaikan pendidikan sekolah. Anggapan ini hadir karena adanya himpitan ekonomi yang biasanya berasal dari keluarga inti dengan jumlah banyak. Sehingga dengan pilihan tersebut, seorang anak dapat berpindah dari rumah dan meringankan tanggungan keluarganya.
Selain itu, hidup dengan anggota keluarga banyak sedari kecil membuat mereka justru terbiasa menerima masalah tersebut. Sebaliknya, suasana ramai dianggap bisa menghidupkan rumah karena bisa berkumpul bersama. Bahkan mereka bisa merasa kesepian jika tidak atau hanya punya sedikit anak — menganggap ada yang kurang. Seolah anak pun dianggap sebagai hiburan — mainan yang fungsinya untuk melengkapi hidup saja.
Ditambah, masyarakat menengah bawah yang hidup cenderung secara komunal, berkumpul dan mengobrol adalah salah satu kebiasaan yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari. Topik obrolan pun beragam, mulai dari serius sampai ke arah basa-basi sebagai rasa penasaran terhadap hidup orang lain. Dua topik yang sering ditanyakan adalah perihal anak dan pernikahan. Jika belum menikah maka akan ditanya kapan akan menikah. Pun, jika pasangan belum punya anak, mereka juga akan ditanya kapan punya anak. Pertanyaan ini mejengkelkan jika terus didengar secara berulang. Tanpa sadar, pasangan yang sudah menikah akan menganggap bahwa punya anak adalah kewajiban. Siap atau pun tidak, orang yang sering mendengar pertanyaan ini juga kemungkinan akan jenuh terlepas apapun status ekonominya.
Sayangnya, kewajiban untuk memberikan kehidupan layak bagi anak jarang dibicarakan. Para pasangan yang memiliki anak pada status ekonomi ini memandang bahwa kewajiban orangtua hanyalah sebatas memberikan makan. Tak ada pembicaraan mengenai tabungan untuk masa depan anak, kebutuhan emosial, gizi yang cukup, atau pun bahkan kesehatan yang memadai. Lalu, banyak anak-anak pun dipaksa untuk bersyukur dengan keadaan yang ada — hidup tidak layak dan pendidikan rendah. Mereka diajarkan untuk selalu menerima keadaan dan berterima kasih karena sudah dilahirkan. Tidak ada pembicaraan bagaimana orangtua memberikan hidup layak sesungguhnya sehingga seorang anak tidak hidup seperti mereka. Bagaimana pun kemiskinan sudah dianggap bukan hal buruk untuk diberikan. Jika sudah dewasa dan berpenghasilan, orangtua pun beranggapan bahwa anak memiliki kewajiban untuk membantu ekonomi mereka sebagai balas budi. Semua hal positif yang orangtua berikan selalu menjadi pusat pembahasan. Sementara, hal-hal buruk disingkirkan dan bahkan dianggap tidak pernah ada.
Karena konsep kewajiban orangtua seperti itu yang dicontohkan dan dipelajari sejak kecil, mereka yang hidup dengan padangan itu akan cenderung menerimanya. Bahkan mereka pun mewariskan pandangan bahwa memang kewajiban orangtua hanya sebatas memberi makan dan membawa mereka ke dunia. Oleh karena itu, punya anak banyak dianggap bukanlah masalah.
HIDUP BUTUH UANG
Harus diakui hidup itu membutuhkan uang. STOP untuk bilang “hidup itu tidak butuh uang, asal percaya saja dengan Tuhan”. DIsini kita tidak sedang membicarakan tentang agama, bukan karena penulis seorang atheis, tapi memang ingin membahas dengan realistis dan logika.
Dari sejak lahir, manusia membutuhkan uang supaya bisa bertahan di dunia ini. Apalagi masyarakat yang sebagian besar saat ini sudah tidak bisa memanfaatkan alam sebaik mungkin seperti dulu. Menurut catatan sejarah, dahulu manusia, khususnya masyarakat Indonesia masih bisa hidup sejahtera walau tanpa uang. Hal ini karena dulunya Indonesia memiliki tanah yang subur, dan laut yang luas. Istilahnya dulu “kail dan batu cukup menghidupimu”. Apapun yang ditanam selalu tumbuh subur, dan apapun yang dipancing dilaut selalu dapat.
Tapi sekali lagi, itu dulu. Saat ini selain lahan yang berkurang dan laut yang tidak lagi bersih, manusia juga sudah mulai malas memanfaatkan alam dengan sebaik mungkin dan banyak yang dieksploitasi sedemikian rupa, sehingga mau tidak mau untuk mendapatkan bahan pangan harus menggunakan uang.
Tidak hanya makan, pendidikan yang mumpuni juga membutuhkan uang. Ya banyak sekolah negeri gratis saat ini, namun tindakan oknum-oknum tidak bertanggungjawab membuat para siswa-siswi tetap harus membayar sejumlah uang dengan alasan seperti infaq, sumbangan, dana ini itu, dan alasan konyol lainnya.
POLA PIKIR YANG SALAH
Tidak hanya alasan hidup butuh uang, kebanyakan pola pikir kelompok masyarakat miskin banyak yang salah.
Pertama, beberapa dari mereka menganggap pendidikan tidak penting, atau hanya gender tertentu saja yang pantas mendapatkan pendidikan. Dalam hidup yang paling penting adalah bekerja mencari uang, berapapun usianya.
Kedua, banyak yang masih berpikir banyak anak banyak rejeki. Padahal hal itu salah, banyak anak itu justru makin banyak rejeki yang harus dicari. Bukan ketika kita santai-santai tiba-tiba uang tumbuh di tanah karena punya banyak anak.
Ketiga, buta akan sistem ketuhanan. Memiliki agama, dan beriman pada Tuhan tidak ada yang salah, dan malah hal yang baik. Namun mencobai Tuhan bukanlah kelakuan yang terpuji. Manusia diciptakan lebih mulia dari makhluk hidup lain karena manusia diberi akal budi. Namun lucunya, mereka yang (maaf) makan saja masih hutang sana sini, nekat memiliki anak dengan alasan, “anak itu ada rejekinya sendiri-sendiri, punya anak aja dulu, nanti ada rejekinya”. Namun ketika ditampar kenyataan mereka akan berdalih, “rejeki tidak hanya dalam bentuk uang”, padahal bisa dipastikan “pepatah” yang mereka katakan sebelum memiliki anak adalah rejeki dalam bentuk uang atau harta benda lainnya. Ada juga yang percaya bahwa KB adalah hal yang dilarang agama dan diwajibkan memiliki anak sebanyak-banyaknya. Mungkin mereka lupa, bahwa Tuhan mengajarkan untuk bisa mencintai dan bertanggungjwab sesama makhluk hidup.
Keeempat, menetapkan target umur hanya untuk memenuhi konsep hidup lingkungan sekitar. Tanpa memikirkan kemampuan hidup layak, masih banyak orang yang menikah dan memiliki anak hanya karena target umur atau dorongan orang sekitar. Umur sekian harus menikah, setelah menikah harus segera punya anak atau jika tidak akan dikatakan “mandul”. Lucunya mereka yang jadi korban teori tidak berdasar ini justru sebagian besar juga menjadi pelaku.
Kelima, adanya konsep jaman dulu yang dibawa-bawa ke jaman sekarang, seperti “orang tua jaman dulu meskipun tidak punya uang, tapi punya anak 10 aja sanggup kok”. Sehingga melakukan pembenaran bahwa tidak perlu mempersiapkan uang dan mental, punya banyak anak tidak masalah.
Keenam, merasa perlu melanjutkan garis keturunan, atau meneruskan nama keluarga.
Ketujuh, menjadikan anak sebagai investasi di masa tua. Entah dalam bentuk uang, atau untuk merawat mereka nantinya. Padahal anak itu bukan barang, bukan investasi dan instrumen keuangan.
Siapa bilang kejahatan hanyalah yang terterah pada hukum pidana dan perdata? Dalam sebuah keluarga kejahatan yang tidak tercatat dalam undang-undang di Indonesia juga banyak. Saat ini kita akan membahas kejahatan yang dilakukan orang tua terhadap anak-anaknya dalam sebuah keluarga miskin.
Pernah dengar istilah, “1 orang Ibu bisa merawat 10 orang anak, tetapi 10 orang anak belum tentu bisa merawat 1 orang Ibu”? Istilah tersebut tidak sepenuhnya benar. Jika dihubungkan dengan zaman dulu yang mana punya banyak anak adalah hal lumrah, siapa bilang seorang ibu bisa merawat 10 anak? Apa arti merawat? Apa arti membesarkan dengan baik?
Banyak kisah yang kita dengar, jaman dahulu dimana ekonomi mereka masih sangat minim, mereka justru mengorbankan salah satu atau lebih dari anak-anaknya untuk bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga dan biaya sekolah adik-adiknya. Belum lagi kebutuhan gizi anak-anaknya yang tidak mampu mereka cukupi.
Bisa dilihat dari perawakan anak-anaknya yang cenderung pendek, yang kemudian ditutupi dengan alasan keturunan, padahal masuk kategori kekurangan gizi. Tidak sedikit cerita bahwa pada waktu anak-anaknya kecil, mereka hanya memberi makan nasi dan kuah, atau nasi dan sayur. Ya, jaman dahulu orang tua banyak yang menganggap asal anak hidup saja sudah selesai. Tetapi mereka tidak sadar sudah mengorbankan banyak hal pada anaknya agar bisa tetap hidup.
Jika dibandingkan secara apple to apple, apabila anak dari mereka kemudian merawat ibu atau ayah mereka dengan cara jaman dulu, dipaksa bekerja atau hanya diberi makan nasi dengan kuah, maka istilah tadi akan dikeluarkan, dan si anak akan di cap durhaka.
Ini merupakan salah satu kejahatan orang tua, memaksa anak bekerja dan tidak memberikan makanan serta pendidikan yang layak dan sama rata. Jika alasannya adalah uang, mengapa memutuskan memiliki banyak anak?
Cenderung menjadikan anak sebagai investasi masa tua. Tidak semua, tapi kebanyakan pasangan yang sebelumnya hidup di garis kemiskinan dan mempercayai pola pikir yang disebutkan diatas, BIASANYA, menjadikan anak sebagai sumber uang, atau istilahnya sekarang adalah sandwich generation.
Banyak kasus dimana orang tua hanya meminta uang saat anak sudah bekerja dengan alasan balas budi, dan terus meminta tanpa peduli keadaan sang anak. Jika tidak diberi sejumlah yang diminta, lagi dan lagi akan dengan mudah melabeli anak durhaka
Suka tidak suka, nyatanya mereka juga ikut menyumbang tingginya angka stunting dan kurang gizi di Indonesia. Penyebab stunting tentunya karena gizi yang tidak terpenuhi saat masa pertumbuhan, khususnya pada 1000 hari pertama anak. Stunting dapat menyebabkan pola belajar anak terganggu, IQ yang dibawah rata-rata, susah dalam menyerap ilmu, cenderung implusif dalam memutuskan sesuatu, dan minim literasi. Tentunya sifat-sifat seperti ini akan mempersulit Indonesia untuk bersaing dengan Negara lain. Tidak mustahil Indonesia bisa mengalami kemunduran jika hal ini terus dilakukan.
Beberapa dari mereka hingga tidak mampu memberikan pendidikan dengan minimal lulus SMA. Ada yang putus sekolah, bahkan tidak mampu membaca dan berhitung. Ketika orang tua tidak mampu namun memaksakan, anaklah yang jadi korban. Bisa bayangkan bagaimana masa depan anak-anak ini? Rantai kemiskinan tidak akan putus, dan malah diwariskan. Bukankah ini termasuk tindak kejahatan pada anak?
Hutang-piutang bisa merusak hubungan teman hingga keluarga. Kadang, orang yang berkecukupan saja memiliki hutang piutang, apalagi mereka yang tidak mampu? Darimana mereka membayar? Banyak kejadian keluarga yang sampai berani melakukan pinjaman online dan tidak mampu membayar hingga melakukan aksi nekat, seperti tindakan kriminal atau bunuh diri. Mirisnya, terkadang mereka bunuh diri sambil mengajak anak-anak mereka yang masih tidak tau apa-apa, dan berpikir orang tua adalah tempat teramannya.
Setiap manusia memiliki sisi gelapnya masing-masing, begitupun pasangan yang hidup di garis kemiskinan, namun tetap nekat memiliki anak. Jangan gunakan kalimat pelindung, “iya kami orang miskin, kami tidak layak…”. Sekali salah tetap salah.
