Merayakan Sembilan Dekade Sepakbola di Boyolali

Sukar untuk tidak sepakat bahwa sepakbola adalah olahraga yang paling banyak dimainkan dan ditonton umat manusia di muka bumi. Namun, tentunya, sepakbola bukanlah semata-mata permainan fisik. Olahraga itu menjelma arena tempat identitas dibentuk, dipertandingkan, dan diwariskan. Gary Armstrong dan Richard Giulianotti berujar bahwa "the game of football has a rich global history," dan telah menjadi prisma untuk menyaksikan dan berinteraksi dengan beraneka identitas dan budaya dari seantero dunia.

Ardhiatama Purnama Aji
Oleh Ardhiatama Purnama Aji
7 Juni 2026, 10:47 WIB

Catatan Tertua perihal Skena Sepakbola Boyolali

Seraya mengonfirmasi pemberitaan itu, riuhnya skena sepakbola lalu merangsek pula ke Boyolali setahun setelah berita di atas terbit. Kendati bukan salah satu kota besar di Jawa, sepakbola dimainkan, bahkan diperlombakan di Boyolali. Suratkabar De Locomotief bertanggal 27 Juni 1928 meninggalkan jejak abadi masuknya kultur sepakbola di Boyolali.

BOJOLALI: Pasar-malem De pasar-malem welken het comité ter herdenking van den 64sten verjaardag van den Soenan in den loop van de volgende maand zal organiseeren, geeft nu reeds wat bedrijvigheid aan de anders zoo stille plaats Bojolali. Blijkbaar spant het comité zich in om dezen eersten pasar-malem meer aanzien te geven. Als bizonderheid zij vermeld, dat de tentjes zijn opgeslagen in de kampong Ngrantjah aan de Oostelijke grens van de kota, terwijl het voetbalterrein, waar wedstrijden tijdens den pasar malem werden gehouden, ook in de andere kampong Ngrantjah aan de Westelijke grens wordt aangelegd.”[vi] [BOYOLALI: Pasar Malam Pasar malam yang akan dihelat bulan depan oleh komite peringatan ulang tahun ke-64 Sunan, kini telah mulai memberikan sedikit keramaian di kota Boyolali yang biasanya amat sepi. Tampaknya, komite tersebut berusaha keras untuk memberikan gengsi yang lebih besar pada pasar malam pertama ini. Sebagai catatan khusus, perlu disebutkan bahwa tenda-tenda telah didirikan di kampung Ngrantjah di batas timur kota, sementara lapangan sepak bola—tempat pertandingan akan diadakan selama pasar malam—juga sedang dibangun di kampung Ngrantjah lainnya di batas barat.]

Dari muatan berita itu, kita dapat melihat ada proses pembangunan voetbalterrein (lapangan sepakbola) yang tengah berjalan demi gelaran kompetisi dalam serangkaian perayaan ulang tahun Raja Surakarta, Susuhunan Pakubuwana X ke-64. Tampaknya, lapangan sepakbola itu dibangun di Kampung Ngrancah, yang sekarang masuk wilayah Desa Pusporenggo, Kecamatan Musuk.

Gempita sepakbola tak hanya dirasakan penduduk Kota Boyolali. Menurut berita Djawa Tengah edisi 25 November 1931, di pojok utara Kabupaten Boyolali, empat tahun berselang, warga Juwangi merayakan sepakbola lewat pertandingan persahabatan antara tim tuan rumah I.S.V. Telawa dan tim tamu K.L.V.C. Kedungjati. Sayang, tim I.S.V. harus mengakui keunggulan tim tamu dengan skor 0-2.[vii]

Sejatinya, kehadiran skena sepakbola di Juwangi yang tampak lebih dini tidaklah mengagetkan. Sebab, dengan infrastruktur Halte Telawa, daerah itu terhubung dengan perlintasan rel kereta api Semarang-Solo. Bahkan, lebih dari satu dekade sebelumnya, obrolan mengenai perkembangan populasi dan ekonomi daerah tersebut cukup santer sebagaimana berita koran Djawa Tengah edisi 22 Januari 1919:

KABAR TELAWA (DJOENGWANGIE) Dari Telawa ada kabar begini roepa soearanja. Koetika boelan December 1918, saja mendengar soearanja orang bangsa Boemipoetra dan bangsa Tiong Hwa sama beromong-omong di pinggir setrat (straat) pasar desa Telawa (Djoengwangie) maoe djadi kotta besar […] dan moeda-moedahan bangsa Boemipoetra sekalian bangsa Tiong-Hwa desa Telawa (Djoengwangi) bisa seperti Semarang Soerabaia ramenja adanja.”[viii]

Sekira tiga tahun selepas perhelatan voetbal di Telawa, kepopuleran sepakbola  di kalangan warga Boyolali terus meningkat dan didokumentasikan oleh suratkabar Djawa Tengah edisi 8 Oktober 1934. Disebutkan, karena kegemaran warga Boyolali akan sepakbola, pembangunan stadion lantas direncakanan di sebuah lokasi yang berdekatan dengan Pesanggrahan Rijksbestuurer di Asrikanto, Desa Kiringan.[ix]

Setahun bergulir, kabar pembangunan stadion di sekitar Asrikanto masih belum menampakkan titik terang. Dan lapangan sepakbola Ngrancah di Pusporenggo masih terus dipakai. Kendati masih memakai lapangan lama, kultur sepakbola Boyolali makin mengakar dengan kemunculan sebuah klub—yang sialnya tidak disebut namanya. Dan tampaklah, sepakbola Boyolali kian dekat dengan hidup orang kecil. Hal itu diafirmasi oleh suratkabar De Locomotief pada 6 Desember 1935:

Asib Bojolali. Te Bojolali werd besloten maandelijks een voetbalwedstrijd te organiseeren ten bate van het Asib. De eerste wedstrijd wordt gespeeld op 8 dezer tusschen een club uit Bojolali en R.O.M.E.O. uit Solo op het Rantjah-veld.”[x] [Asib Bojolali. Di Boyolali, telah diputuskan untuk mengadakan pertandingan sepakbola bulanan demi kepentiingan Asib. Pertandiingan pertama akan dimainkan pada tanggal 8 bulan ini antara sebuah klub dari Boyolali dan R.O.M.E.O. dari Solo di Lapangan Rancah.”]

Dari warta tersebut, kita bisa menangkap ihwal yang menarik dari skena bal-balan Boyolali yang sudah melampui budaya bermain dan menonton pertandingan. Sepakbola kemudian menjadi medium untuk kegiatan amal. Rencananya uang yang dikumpulkan dari perhelatan itu akan disumbangkan kepada organisasi Algemeen Steunfonds voor Inheemse Behoeftigen (ASIB), yayasan kolonial yang bergiat dalam kerja-kerja pembagian santunan kepada orang miskin.

Entah klub yang sama ataupun tidak, setahun berselang, kesebelasan Bond Bojolali menjamu tim bernama Oetama yang disinyalir, berasal dari Dusun Mungup, Desa Kemasan, Kecamatan Sawit. Laga yang digelar pada 9 Oktober 1936 di lapangan Sriyatno, Karanggeneng tersebut dimenangkan oleh tim tamu dengan skor 1-0. Berikut warta yang diturunkan oleh Djawa Tengah edisi 20 Oktober 1936:

Peraja’an di Bojolali Peraja’an boeat menghormatin hari tahoennja Sri Baginda itoe boekan tjoema di kota Soerakarta sadja, tetapi djoega diadakan di seloeroe Keradja’an Soerakarta. Boeat di loear kota dibagi mendjadi 3 menoeroet Regentschapnja, jalah di Bojolali, Sragen dan Klaten […] Sorenja di voetbalterrein “Srijatno” diadakan pertandiingan voetbal antara Bond Bojolali dengen kloeb “Oetama” dari Moengoep, jang oendjoekkan permaenan sama baeknja. Pada waktoe penghabisan stand ada 1—0 boeat kemenangannja “Oetama” di Moengoep.[xi]

Dari berita itu, kita boleh mengatakan bahwa voetbalterrein yang sebelumnya sedang dibangun pada 1934 sudah pungkas. Betapa tidak, Kampung Sriyatno dan Asrikanto sendiri memang bersebelahan. Hingga kini, perbatasannya adalah Lapangan Pasar Sunggingan yang kerap jadi venue pasar malam dan konser musik. Artinya, lokasi itu memiliki tempat khusus bagi sejarah sepakbola Boyolali.

Kalau kita mengobrolkan secara lebih mendalam, sepakbola tentunya bukan sekadar pelengkap dalam hidup masyarakat Boyolali era kolonial. Barangkali, sepakbola adalah sebenar-benar hidup, satu-satunya penghiburan yang bisa wong cilik Boyolali akses selain pasar malam. Adapun Boyolali hanyalah sebuah kabupaten semenjana di Kasunanan Surakarta.

Sebagaimana ungkapan Kuntowijoyo, di ibukota negeri Surakarta, di Kota Solo, di tengah-tengah booming-nya elektrifikasi rumah-rumah warga kulit putih, lampu minyak tanahlah yang tetap setia menerangi rumah-rumah wong cilik. Berkembangnya kota lewat trem, hotel. kantor pos, telpon, air bersih, bioskop, gedung pertunjukan, sirkus, dan komedi tak pernah sekalipun wong cilik miliki. Yang mereka bisa miliki adalah pasar tradisional, sekaten, dan seremoni-seremoni raja belaka.[xii]

Artikel Terkait