Penandas
Kita layak membubuhkan senukil simpulan bahwa yang selama ini kita sebut sebagai “sejarah sepakbola Boyolali” sesungguhnya hanyalah sejarah institusi sepakbola Boyolali, alih-alih sejarah sepakbola Boyolali itu sendiri. Kelahiran Persebi, dengan segala kewibawaannya sebagai satu-satunya wakil Kabupaten Boyolali di kancah nasional, tanpa disadari, seolah-olah telah mereduksi, bahkan membenamkan, tradisi yang jauh lebih tua dan jauh lebih kaya dari sekadar tanggal berdirinya pada 1975. Sejarah memang tak selalu dimulai dari saat sebuah nama resmi yang termaktub di atas kertas.
Boyolali, kabupaten semenjana yang kerap terlupakan dalam perbincangan sepakbola nasional, rupanya telah lebih dulu mengenal hiruk-pikuk voetbal jauh sebelum Persebi muncul pada 1975. Sejak 1928, ketika lapangan sepakbola Ngrancah di Pusporenggo dibangun demi serangkaian perayaan ulang tahun raja, hingga 1936 ketika Bond Bojolali menjamu klub Oetama dari Mungup di Lapangan Sriyatno—yang akrab dikenal publik dengan Lapangan Sunggingan, sepakbola telah merangsek ke dalam nadi kehidupan warganya. Dari situ, sepakbola bertransformasi. Dari seremoni kekuasaan, menjadi milik wong cilik.
Di sini, timbul ironi yang memerihkan sekaligus mengharukan pada saat bebarengan. Sepakbola mula-mula hadir di Boyolali dalam balutan gengsi feodal-kolonial—lewat pembangunan lapangan dan pendirian tenda, demi memperingati ulang tahun Susuhunan. Namun lambat-laun, sepakbikah tidak lagi menjadi kepunyaan raja atau priyayi saja. Lantas, sepakbola menjelma kepunyaan mereka yang cuma bisa menerangi rumah dengan lampu minyak tanah tatkala di kota besar, listrik menghias seisi rumah warga kulit putih. Sepakbola—dengan lapangan yang bisa dibangun di tempat publik manapun, dengan bola yang bisa terbuat dari apapun—menjelma sebenar-benar hidup warga kecil.
Maka, dengan menilik histori yang telah berakar sejak sembilan dekade lebih itu, ada satu pertanyaan yang rasanya perlu kita ajukan dengan sungguh-sungguh: apakah kita akan tetap mempertahankan 1975 sebagai tahun lahir Persebi? Sebab, jauh sebelum nama Persebi dikenal, telah ada kesebelasan Bond Bojolali yang bertanding, kalah, dan menang di Lapangan Sunggingan. Pada 8 Desember 1935, klub inilah yang besar kemungkinan berlaga melawan R.O.M.E.O. dari Solo demi mengumpulkan santunan bagi kaum miskin. Pada 9 Oktober 1936, klub Bond Bojolali bertanding dalam rangka perayaan raja. Pada tanggal-tanggal itulah, untuk pertama kalinya, nama sebuah kesebelasan Boyolali mencuat dalam sebuah sumber sejarah. Bukan sekadar lapangan yang dibangun, bukan pula semata-mata penonton yang berjubel. Kesebelasan itu hadir maujud sebuah klub, dengan nama, dengan laga, dengan catatan skor yang abadi.
Boleh jadi, kita layak mempertimbangkan penggeseran hari lahir Persebi ke salah satu dari dua tanggal itu. Hal itu tidaklah semata-mata demi romantisme, tapi demi mengakomodasi sejarah orang kecil Boyolali, yang semula telah lebih dulu merayakan sepakbola jauh sebelum ada nama Persebi Boyolali dan nomor registrasi resmi. Muaranya, agar kisah sepakbola dan orang kecil Boyolali mendapat tempat yang semestinya dalam ingatan kolektif kita. Sebab, pada akhirnya, sepakbola tak akan pernah sekadar tentang sepakbola. Demikian pula, sejarah tak akan pernah tentang tanggal belaka.
Namun, kembali lagi, tulisan ini sekadar bahan pantikan dan usulan untuk mengeksplorasi sejarah “skena” sepakbola di Boyolali secara lebih lanjut, lebih-lebih soal tanggal/tahun kelahiran Persebi Boyolali. Dan berikutnya, hal-ihwal itu akan bergantung kepada, dan hanya kepada, masyarakat Boyolali, pengelola klub, dan segenap kelompok suporter sebagai pemilik Persebi seutuhnya untuk menyikapi usulan/pantikan Citizenssmile ini. Sekian dan terima kasih~
[i] Dijahit oleh Ardhiatama Purnama Aji, anggota Kelompok Suporter Citizenssmile dan masih menempuh studi Magister Sejarah UGM. Tulisan ini pertama terbit sebagai slides infografis bertajuk “Bond Bojolali: lahirnya skena sepakbila Boyolali 1936” dalam akun Instagram @citizenssmile.75
[ii] Gary Armstrong dan Richard Giulianotti, “Introduction: Football in the Making,” dalam Football Cultures and Identities, ed. Gary Armstrong dan Richard Giulianotti (London: Macmillan Press, 1999), hlm. 1
[iii] Christian Koller dan Fabian Brändle, Goal! A Cultural and Social History of Modern Football, terj. David S. Bachrach (Washington, D.C.: The Catholic University of America Press, 2015), hlm. 1
[iv] Freek Colombijn, “View from the Periphery: Football in Indonesia,” dalam Football Cultures and Identities, ed. Gary Armstrong dan Richard Giulianotti (London: Macmillan Press, 1999), hlm. 126-129
[v] Kajawen, 30 Juni 1927
[vi] De Locomotief, 27 Juni 1928
[vii] Djawa Tengah, 25 November 1931
[viii] Djawa Tengah, 22 Januari 1919
[ix] Djawa Tengah, 8 Oktober 1934
[x] De Locomotief, 6 Desember 1935
[xi] Djawa Tengah, 20 Oktober 1936
[xii] Kuntowijoyo, “Lari dari Kenyataan: Raja, Priyayi, dan Wong Cilik Biasa di Kasunanan Surakarta,1900-1915”, Humaniora, Vol. 15 No. 2, (Juni 2003), hlm. 206
