Warung Kopi dan Film

Waktu itu ruangan amat pepat. Para pengunjung tengah mempersiapkan diri menyaksikan film dokumenter. Benar, sebuah film diputar di sebuah warung kopi Lahan Subur. Seperti namanya, warung itu sangatlah subur. Para pengunjung sering berdatangan. Mereka menganggapnya bukan hanya sebagai tempat singgah, akan tetapi sebagai bagian hidup mereka.

Oleh M Ghaniey Al Rasyid
24 April 2026, 15:03 WIB

Para penonton mengaku Bahagia. Ia dapat menilik Lahan Subur dari waktu ke waktu. Meskipun para pengunjung berlalu silih berganti, namun secercah rasa perjumpaannya tak pernah terganti. Kota Owatari berhasil mengabadikan momen Lahan Subur sebagai basis penting ruang ekspresi di Kota Surakarta. Okki dengan mata berkaca-kaca mengucapkan salam tulus kepada sahabatnya Kota, ia berujar ‘teruslah tumbuh liar menjalar.’

Sejak film keduanya diputar di Lahan Subur, Kota Owatari akan membikin film-film lainnya. Ia akan berporses mencipta film-film dokumenter lainnya. Sekelibat terdengar, Kota akan membuat sebuah film dokumentasi mengenai kesusastraan dan perbukuan di Solo. Okki sebagai teman dekatnya akan tetap mendukung, Keputusan kawannya itu.

Seuntai Kisah Film di Indonesia

Denys Lombard menyebut film sebagai hasil kebudayaan barat. Keberadaan film sering kali dinantikan dengan pertunjukan videografis yang memikat imaji. Dalam Nusa Jawa Silang Budaya Jilid I, Lombard berujar, Indonesia baru mengenal Film sejak Barat memperkenalkannya

Pada tahun 1924 Hindia Belanda membikinkan sebuah film berjudul Loetoeng Kasaroeng. Film legenda Sunda itu diproduksi pada 1926 oleh Film Company de Heveldop Kruger. Pada tahun yang sama, Jepang telah terlebih dahulu membuat sebuah film dengan jumlah 897 film.

Setelah kemerdekaan, Persari dibentuk oleh Djamaludin Malik. Sebagai mantan Bankir dan spekulan pasar modal, Djamaludin membuka produksi film, dengan mendirikan Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia) pada media 1950-an. Djamaluddin Malik punya asa besar dalam perfilman. Kata Lombard, Persari sebagai cita-cita perfilman Indonesia agar seperti MGM di Amerika.

Ia membuat film delapan pertahun dari 1954-1956. Kepiawaian Djamaludin Malik dalam membikin film ini memikat Pramoedya Ananta Toer. Dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, ia mengapresiasi kepiawaian Djamaloedin malik dalam mengolah Ratu Asia yang waktu itu dihelat di Garden Hall.

Film kemudian menyeruak santer pada medio 1970-an. Beberapa majalah beterbaran memperbincangkan film. Persesi di beberapa pagina majalah penting republik seperti Fotomedia, Citrafilm, Foto, dsb memperbincangkan film dan pelbagai komponenya. Selain itu majalah yang menyuguhkan topik nasional seperti Tempo, Gatra, Matra, Zaman dsb turut menghadirkan film dalam paginanya.

Film menjadi kebutuhan. Keberadaannya menawarkan sebuah rasa dalam relung hiperalitasnya. Keberadaan film menaruh asa dan kecemasan. Di Majalah Tempo dalam rubrik Kalam Garin Nugroho membeberberkan film berjudul Film di Indonesia: Antara Pertumbuhan dan Kecemasan pada 1 Mei, 1993).

Arsip Majalah Tempo 1 Mei 1993
Arsip Majalah Tempo 1 Mei 1993

Artikel Terkait